Banyak hal yang pernah kita temukan dalam keseharian kita, rasa marah, bahagia dll. dan saat kita merasakan rasa kebencian terhadap diri kita dan orang lain, paling tidak kita mempuyai cara untuk mengatasinya agar masalah itu tidak semakin besar dan membuat kehidupan kita terganggu, disini saya mempunyai tips untuk bagaimana kita bisa membunuh rasa kebencian dalam diri.
1. Sabar, inilah yang kata yang paling ampuh menghadapi berbagai ulah, orang-orang yang tak seide atau bahkan bertentangan atau berlawanan, bahkan bisa jadi seperti ” benalu” di sebuah pohon, kemana orang yang dibencinya bergerak, orang ini akan mengikutinya dan membuat komen yang bisa saja menjengkelkannya, karena memang itu tujuannya. Orang seperti ini sengaja membuat marah, hobinya yang “menghantam” pihak lain. Begitu juga yang terjadi di kantor, di lingkungan tetangga dan lain sebagainya, ada saja orang yang “menghantam” orang lain karena beda aliran, paham, partai politik dan lain sebagainya, baik dilakukan terang-terangan maupun diam-diam. Bahkan bila yang dibenci adalah musuh politiknya, maka racunpun bicara!
2. Tidak membalasnya dengan kata-kata yang kasar pula, kalau terjadi, maka “pancingan”nya berhasil!Karena orang yang membalas kekasaran dengan kekasaran, kejahatan dengan kejahatan, ibarat api ditambah api, maka akan semakin merajalela dan “kebakaran” akan semakin meluas. Sipat api yang panas, bukan dilawan dengan panas pula, tapi dengan lawannya, yaitu air yang dingin. Api di balas dengan air, panas di balas dengan dingin, kekerasan di balas dengan kelembutan dan caci maki dibalas dengan doa!
3. Santai saja, kritikan atau hantaman yang begitu keras, biasanya membuat ketabahan dan kesabaran semakin tinggi, ibarat baja yang di pukul palu, bertalu-talu, semakin di hantam semakin kuat. Atau ibarat pedang yang sangat tajam, awalnya adalah besi baja yang dipanaskan atau dibakar dengn suhu yang tinggi dan ditempa sedemikian rupa, pada sat yang tepat, besi baja tadi dibentuk dan jadilah pedang yang tajam! Jadi, tak setiap hantaman itu buruk, tak setiap kritikan menjatuhkan dan tak setiap yang hitam itu lumpur, bahkan bisa jadi emas hitam atau minyak! Itulah pentingnya berpikir postitif pada setiap apapun yang menimpa.
Kebencian pada sesama menimbulkana kehancuran yang sama di mana-mana.
4. Kritikan setajam apapun tak membuat kiamat! Apapun bentuknya kritikan itulah adalah pupuk yang sangat subur untuk sebuah tanaman. Ibarat pohon, suburnya justru ketika diberikan pupuk dan pupuk yang terbaik adalah kotoran, yang disebut pupuk kandang. Jadi tak setiap yang kotor itu buruk dan sebaliknya tak setiap yang kelihatan tenang itu baik, bisa saja menghanyutkan. Dunia tak akan sempurna tanpa adanya perbaikan, perbaikan tak akan terjadi tanpa kritikan, dan kritikan tak bermanfaat bila disampaikan dengan cara yang salah dan dengan situasi dan kondisi yang tak memungkinkan.
5. Musuhmu adalah “kawan” setia yang sangat jujur. Hanya musuhlah yang dengan terang-terangan mengatakan kelemahan-kelemahan Anda, hanya musuhlah yang berani dengan terang-terangan mengatakan kekurangan, keburukan, kesalahan Anda dan itu tak tanggung-tanggung, terkadang dilakukan di depan orang lain, bahkan di depan umum! Sakit memang rasanya, tapi dibalik itu terungkaplah apa-apa yang selama ini ditutupi oleh kawan-kawan Anda, oh ternyata Anda banyak salahanya, banyak kekurangannya, banyak keuburukannnya dan lain sebagainya. Dengan demikian Anda jadi intropeksi diri, “oh Saya itu begitu toh!” Sambil berguman dan manggut-manggut.
6. Tak semua manusia itu baik pada Anda dan tak semua manusia itu jahat pada Anda. Jadi, ketika begitu banyak pujian yang Anda dapatkan dari orang-orang disekeliling Anda, jangan lupa, ada orang-orang yang tak suka pada Anda dengan alasan masing-masing, dengan demikian Anda tak bisa sombong karenanya. Namun ketika begitu banyak hinaan, caci maki dan lain sebagainya yang sipat buruk Anda terima dari orang-orang disekeliling Anda, jangan lupa banyak orang yang menyintai dan menyayangi Anda, bisa keluarga, saudara, teman atau sahabat, dengan demikian Anda tak rendah diri, Anda masih punya harapan.
7. Maafkan orang lain sebelum diminta, bisa saja orang itu mencaci maki atau menghina Anda, karena orang itu tak tahu siapa Anda yang sebenarnya. “Maafkan orang yeng membencimu“, begitu orang bijak berkata, bahkan “doakan orang yang melempari batu ke arah Anda“. Seperti pohon yang sedang berbuah lebat, ketika dilempari batu, pohoon tadi memberikan buah yang ranum, yang siap untuk Anda makan. Wah tak bisa begitu, masa dilempari batu bukan di balas dengan batu, boleh saja, silahkan, namun bukankah keduanya akan semakin parah dan berdarah-darah, lalu bagaimana perdamaian akan terwujud, kalau batu di balas dengan batu, pedang dibalas dengan pedang, dan darah di balas dengan darah? Bukankah memaafkan itu lebih baik, dengan demikian tak ada yang tersakiti bila maaf sudah diberikan.
Kebencian memang penyakit yang ada di dalam hati, makanya sering diebut penyakit hati. Namun bila kebencian ini muncul di arena politik, pihak lawan adalah sasaran utamanya, sehingga yang sering terjadi adalah ketidakadilan. Lawan yang punya ide benar dan cerdas, bisa saja “dihajar” habis-habisan dengan berbagai cara. Makanya yang sering muncul sebagai pemenang bukan orang yang benar dan jujur, tapi justru orang yang penuh tipu muslihat, memang tidak semua demikian. Ada yang menang karena pendekatannya yang bagus dan menyejukan, bukan asal menang, tapi penuh dengan kearifan dan kelembutan.
semoga tips dan info ini bisa berguna untuk semua,
Tampilkan postingan dengan label cerita seru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita seru. Tampilkan semua postingan
Senin, 07 Mei 2012
7 Cara 'Membunuh' Kebencian Dalam Diri
Selasa, 08 November 2011
Apa yang kita "SOMBONGKAN" ???
ini sebuah cerita yang saat saya baca, membuat saya merasa malu kepada diri saya sendiri, ini menceritakan tetang sebuah pengertian kesombongan,,,
Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, “Apa yang sedang Anda lakukan?”
Sang Guru menjawab, “Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka.
Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya.”
Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.
Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.
Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.
Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence) . Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.
Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.
Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.
Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.
Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala “tampak luar” lainnya. Yang kini kita lihat adalah “tampak dalam”. Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.
Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri.
Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.
Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?
Senin, 19 September 2011
KEMPEMIMPINAN SEJATI
Kepemimpinan sesungguhnya tidak ditentukan oleh pangkat atau pun jabatan seseorang. Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi lingkungan pekerjaannya, maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya.
Oleh ARIBOWO PRIJOSAKSONO
Hal ini dikatakan dengan lugas oleh seorang jenderal dari Angkatan Udara Amerika Serikat:
“I don’t think you have to be wearing stars on your shoulders or a title to be a leader. Anybody who wants to raise his hand can be a leader any time.”
-General Ronal Fogleman, US Air Force-
Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati. Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).
Ketika pada suatu hari filsuf besar Cina, Lao Tsu, ditanya oleh muridnya tentang siapakah pemimpin yang sejati, maka dia menjawab:
As for the best leaders, the people do not notice their existence.
The next best, the people honour And praise.
The next, the people fear, And the next the people hate.
When the best leader’s work is done, The people say, ‘we did it ourselves’.
Justru seringkali seorang pemimpin sejati tidak diketahui keberadaannya oleh mereka yang dipimpinnya. Bahkan ketika misi atau tugas terselesaikan, maka seluruh anggota tim akan mengatakan bahwa merekalah yang melakukannya sendiri. Pemimpin sejati adalah seorang pemberi semangat (encourager), motivator, inspirator, dan maximizer.
Konsep pemikiran seperti ini adalah sesuatu yang baru dan mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin konvensional yang justru mengharapkan penghormatan dan pujian (honor and praise) dari mereka yang dipimpinnya. Semakin dipuji bahkan dikultuskan, semakin tinggi hati dan lupa dirilah seorang pemimpin. Justru kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kerendahan hati (humble).
Pelajaran mengenai kerendahan hati dan kepemimpinan sejati dapat kita peroleh dari kisah hidup Nelson Mandela. Seorang pemimpin besar Afrika Selatan, yang membawa bangsanya dari negara yang rasialis, menjadi negara yang demokratis dan merdeka.
Saya menyaksikan sendiri dalam sebuah acara talk show TV yang dipandu oleh presenter terkenal Oprah Winfrey, bagaimana Nelson Mandela menceritakan bahwa selama penderitaan 27 tahun dalam penjara pemerintah Apartheid, justru melahirkan perubahan dalam dirinya. Dia mengalami perubahan karakter dan memperoleh kedamaian dalam dirinya. Sehingga dia menjadi manusia yang rendah hati dan mau memaafkan mereka yang telah membuatnya menderita selama bertahun-tahun.
Seperti yang dikatakan oleh penulis buku terkenal, Kenneth Blanchard, bahwa kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Perubahan karakter adalah segala-galanya bagi seorang pemimpin sejati. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa kedamaian diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya integritas yang kokoh, daya tahan menghadapi kesulitan dan tantangan, dan visi serta misi yang jelas, seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati.
Karakter Seorang Pemimpin Sejati
Setiap kita memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin. Dalam tulisan ini saya memperkenalkan sebuah jenis kepemimpinan yang saya sebut dengan Q Leader. Kepemimpinan Q dalam hal ini memiliki empat makna. Pertama, Q berarti kecerdasan atau intelligence (seperti dalam IQ - Kecerdasan Intelektual, EQ - Kecerdasan Emosional, dan SQ - Kecerdasan Spiritual). Q Leader berarti seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan IQ-EQ-SQ yang cukup tinggi. Kedua, Q Leader berarti kepemimpinan yang memiliki quality, baik dari aspek visioner maupun aspek manajerial.
Ketiga, Q Leader berarti seorang pemimpin yang memiliki qi (dibaca ‘chi’ - bahasa Mandarin yang berarti energi kehidupan). Makna Q keempat adalah seperti yang dipopulerkan oleh KH Abdullah Gymnastiar sebagai qolbu atau inner self. Seorang pemimpin sejati adalah seseorang yang sungguh-sungguh mengenali dirinya (qolbu-nya) dan dapat mengelola dan mengendalikannya (self management atau qolbu management).
Menjadi seorang pemimpin Q berarti menjadi seorang pemimpin yang selalu belajar dan bertumbuh senantiasa untuk mencapai tingkat atau kadar Q (intelligence - quality - qi - qolbu) yang lebih tinggi dalam upaya pencapaian misi dan tujuan organisasi maupun pencapaian makna kehidupan setiap pribadi seorang pemimpin.
Untuk menutup tulisan ini, saya merangkum kepemimpinan Q dalam tiga aspek penting dan saya singkat menjadi 3C , yaitu:
1. Perubahan karakter dari dalam diri (character change)
2. Visi yang jelas (clear vision)
3. Kemampuan atau kompetensi yang tinggi (competence)
Ketiga hal tersebut dilandasi oleh suatu sikap disiplin yang tinggi untuk senantiasa bertumbuh, belajar dan berkembang baik secara internal (pengembangan kemampuan intrapersonal, kemampuan teknis, pengetahuan, dll) maupun dalam hubungannya dengan orang lain (pengembangan kemampuan interpersonal dan metoda kepemimpinan).
Seperti yang dikatakan oleh John Maxwell: “The only way that I can keep leading is to keep growing. The day I stop growing, somebody else takes the leadership baton. That is the way it always it.” Satu-satunya cara agar saya tetap menjadi pemimpin adalah saya harus senantiasa bertumbuh. Ketika saya berhenti bertumbuh, orang lain akan mengambil alih kepemimpinan tersebut.
Oleh ARIBOWO PRIJOSAKSONO
Hal ini dikatakan dengan lugas oleh seorang jenderal dari Angkatan Udara Amerika Serikat:
“I don’t think you have to be wearing stars on your shoulders or a title to be a leader. Anybody who wants to raise his hand can be a leader any time.”
-General Ronal Fogleman, US Air Force-
Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati. Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).
Ketika pada suatu hari filsuf besar Cina, Lao Tsu, ditanya oleh muridnya tentang siapakah pemimpin yang sejati, maka dia menjawab:
As for the best leaders, the people do not notice their existence.
The next best, the people honour And praise.
The next, the people fear, And the next the people hate.
When the best leader’s work is done, The people say, ‘we did it ourselves’.
Justru seringkali seorang pemimpin sejati tidak diketahui keberadaannya oleh mereka yang dipimpinnya. Bahkan ketika misi atau tugas terselesaikan, maka seluruh anggota tim akan mengatakan bahwa merekalah yang melakukannya sendiri. Pemimpin sejati adalah seorang pemberi semangat (encourager), motivator, inspirator, dan maximizer.
Konsep pemikiran seperti ini adalah sesuatu yang baru dan mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin konvensional yang justru mengharapkan penghormatan dan pujian (honor and praise) dari mereka yang dipimpinnya. Semakin dipuji bahkan dikultuskan, semakin tinggi hati dan lupa dirilah seorang pemimpin. Justru kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kerendahan hati (humble).
Pelajaran mengenai kerendahan hati dan kepemimpinan sejati dapat kita peroleh dari kisah hidup Nelson Mandela. Seorang pemimpin besar Afrika Selatan, yang membawa bangsanya dari negara yang rasialis, menjadi negara yang demokratis dan merdeka.
Saya menyaksikan sendiri dalam sebuah acara talk show TV yang dipandu oleh presenter terkenal Oprah Winfrey, bagaimana Nelson Mandela menceritakan bahwa selama penderitaan 27 tahun dalam penjara pemerintah Apartheid, justru melahirkan perubahan dalam dirinya. Dia mengalami perubahan karakter dan memperoleh kedamaian dalam dirinya. Sehingga dia menjadi manusia yang rendah hati dan mau memaafkan mereka yang telah membuatnya menderita selama bertahun-tahun.
Seperti yang dikatakan oleh penulis buku terkenal, Kenneth Blanchard, bahwa kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Perubahan karakter adalah segala-galanya bagi seorang pemimpin sejati. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa kedamaian diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya integritas yang kokoh, daya tahan menghadapi kesulitan dan tantangan, dan visi serta misi yang jelas, seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati.
Karakter Seorang Pemimpin Sejati
Setiap kita memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin. Dalam tulisan ini saya memperkenalkan sebuah jenis kepemimpinan yang saya sebut dengan Q Leader. Kepemimpinan Q dalam hal ini memiliki empat makna. Pertama, Q berarti kecerdasan atau intelligence (seperti dalam IQ - Kecerdasan Intelektual, EQ - Kecerdasan Emosional, dan SQ - Kecerdasan Spiritual). Q Leader berarti seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan IQ-EQ-SQ yang cukup tinggi. Kedua, Q Leader berarti kepemimpinan yang memiliki quality, baik dari aspek visioner maupun aspek manajerial.
Ketiga, Q Leader berarti seorang pemimpin yang memiliki qi (dibaca ‘chi’ - bahasa Mandarin yang berarti energi kehidupan). Makna Q keempat adalah seperti yang dipopulerkan oleh KH Abdullah Gymnastiar sebagai qolbu atau inner self. Seorang pemimpin sejati adalah seseorang yang sungguh-sungguh mengenali dirinya (qolbu-nya) dan dapat mengelola dan mengendalikannya (self management atau qolbu management).
Menjadi seorang pemimpin Q berarti menjadi seorang pemimpin yang selalu belajar dan bertumbuh senantiasa untuk mencapai tingkat atau kadar Q (intelligence - quality - qi - qolbu) yang lebih tinggi dalam upaya pencapaian misi dan tujuan organisasi maupun pencapaian makna kehidupan setiap pribadi seorang pemimpin.
Untuk menutup tulisan ini, saya merangkum kepemimpinan Q dalam tiga aspek penting dan saya singkat menjadi 3C , yaitu:
1. Perubahan karakter dari dalam diri (character change)
2. Visi yang jelas (clear vision)
3. Kemampuan atau kompetensi yang tinggi (competence)
Ketiga hal tersebut dilandasi oleh suatu sikap disiplin yang tinggi untuk senantiasa bertumbuh, belajar dan berkembang baik secara internal (pengembangan kemampuan intrapersonal, kemampuan teknis, pengetahuan, dll) maupun dalam hubungannya dengan orang lain (pengembangan kemampuan interpersonal dan metoda kepemimpinan).
Seperti yang dikatakan oleh John Maxwell: “The only way that I can keep leading is to keep growing. The day I stop growing, somebody else takes the leadership baton. That is the way it always it.” Satu-satunya cara agar saya tetap menjadi pemimpin adalah saya harus senantiasa bertumbuh. Ketika saya berhenti bertumbuh, orang lain akan mengambil alih kepemimpinan tersebut.
Senin, 05 September 2011
Mencitakan MATAHARI
Pada tahun 1960-an, ketika perang Vietnam, Amerika
mengirimkan sekitar 500.000 lebih tentara nya
ke medan perang. Dari sekian banyak korban dari
pihak tentara Amerika, sepanjang tahun tersebut
ada 2.583 tentara yang dinyatakan ditahan atau
missing-in-action.
Para tawanan perang (dikenal dengan istilah POW -
Prisoner of War) ini dikumpulkan di sebuah sel yang
disebut “Dogpatch” di tengah hutan rimba Vietnam.
Disebut Dogpatch karena memang sel ini sangat
mirip dengan kandang anjing, dimana 20 POW
dimasukan ke dalam ruang gelap kecil di bawah
tanah tanpa jendela, sehingga cahaya matahari
sama sekali tidak terlihat. Akibatnya para POW
sama sekali tidak dapat membedakan kapan siang
dan malam.
Banyak dari para tawanan ini mengalami stres berat
dan akhirnya meninggal di dalam sel. Yang menarik
adalah ternyata dari sekian banyak tawanan perang
tersebut, ada beberapa orang yang masih dapat
bertahan hidup dan akhirnya dapat kembali pulang
ke Amerika pada tahun 1970-an. Pertanyaan nya
adalah “apa yang membedakan” antara orang yang
meninggal di dalam sel dan mereka yang dapat tetap
bertahan hidup?
Dari hasil wawancara dengan para POW yang
berhasil bertahan hidup di Dogpatch selama
bertahun-tahun, ternyata ada kesamaan yakni dari
cara mereka ber ‘imajinasi’ dan ‘kata-kata’ yang
mereka katakan berulang-ulang dalam hatinya.
Jadi, meskipun mereka hidup didalam kegelapan
sepanjang waktu, mereka mengimajinasikan bahwa
mereka tetap dapat ‘melihat’ dan ‘merasakan’ sinar
matahari pada siang hari, atau bulan di malam hari.
Dengan mengimajinasikan pergerakan matahari
atau bulan ini, mereka dapat tetap menjalani siklus
hidup mereka dengan ‘normal’ di dalam sel.
Mereka akan tidur saat ‘malam hari’ dan beraktivitas
pada ‘siang hari’. Selain itu juga mereka percaya
dan yakin, dengan ‘memilih’ menggunakan katakata
yang memberdayakan, bahwa suatu saat pasti
mereka akan dapat keluar dengan selamat dan
kembali bertemu keluarganya. Fenomena dan cerita
di atas sangat menarik dan menginspirasi buat saya
pribadi.
Namun cerita di atas semakin menginspirasi saya lagi
ketika saya belajar sebuah cabang ilmu yang disebut
NLP (Neuro-Linguistic Programming), karena saya
semakin paham bahwa manusia dikaruniai Tuhan
modal dan alat bertahan hidup yang sangat luar biasa
– kelima panca indera dan kemampuan ‘mencipta’.
Dalam NLP, kelima panca indera ini dikenal
dengan istilah Modalitas yang terdiri dari: Visual
(Penglihatan), Auditory (Pendengaran), Kinestetik
(Perasaan), Oldfactory (Penciuman) dan Gastutory
(Pengecapan). Namun yang membuat manusia
lebih hebat dibandingkan makhluk bumi lainnya,
bukanlah terletak pada kelima indera ini. Karena
binatang pun memiliki kelima indera ini. Bahkan
beberapa binatang tertentu memiliki kepekaan yang
jauh melebihi manusia. Sebagai contoh misalkan
penciuman anjing yang mampu mengendus jejak,
penglihatan elang yang sangat tajam, dsb.
Nah, yang membedakan manusia dari makhluk lain
nya adalah kemampuan ‘mencipta’ (creation) dengan
memanfaatkan modalitas ini, atau yang istilahnya
adalah SubModalitas.
Sebagai contoh sederhana adalah misalkan ketika
anda diminta membayangkan sebuah jeruk nipis
berwarna hijau (visual), yang kemudian dipotong
kemudian airnya diperas dan diteteskan ke lidah
anda (gastutory) dan terasa sangat asam. Beberapa
orang ketika diminta membayangkan hal ini sampai
mengeluarkan air liur di lidahnya. Pertanyaannya
apakah jeruk nipis tadi benar-benar ada di dunia
nyata atau sebuah realitas? Lalu mengapa beberapa
orang bahkan sampai mengeluarkan air liur
merasakan jeruk nipis yang asam ini?
Ternyata dengan kelima indera ini memungkinkan
manusia untuk menciptakan realitas di dalam
pikiran yang sama sekali berbeda dengan realitas
di dunia nyata. Kemampuan mencipta inilah yang
membuat manusia dapat menciptakan kebudayaan
dan peradaban. Inilah karunia Tuhan yang diberikan
HANYA pada manusia dan tidak pada makhluk
lainnya.
Mungkin anda pernah mendengar nama Darwis
Triadi – seorang fotographer ternama dari Indonesia.
Yang pasti, beliau adalah orang yang sangat piawai
memanfaatkan kemampuan visualnya sehingga
mampu menciptkan foto-foto terbaik yang dihargai
hingga ratusan juta rupiah per buah.
Atau juga seorang legenda musik Indonesia: Alm.
Chrisye (Raden Christian Rahadi, 1949-2007) yang
sepanjang hidupnya telah meluncurkan 21 solo -
album popular. Beliau adalah orang yang sangat
luar biasa cerdas dengan kemampuan auditorynya,
sehingga mampu mencipatkan ratusan buah lagu
yang mampu menggerakan emosi jutaan pendengar
musik di tanah air, hingga saat ini.
108
Ada juga Ronaldinho – pemain sepak bola asal Brazil
– yang lahir di Porto Alegre tahun 1980 ini mampu
menggandengkan FIFA Confederations Cup Golden
Ball & Golden Shoe pada tahun 1999 dan segudang
prestasi lainnya. Ronaldinho sangat optimal dalam
memanfaatkan kecerdasan kinestetik nya.
Tentu masih banyak jutaan contoh lainnya bagaimana
orang-orang menjadi besar dan terkenal sebetulnya
karena mampu memanfaatkan anugrah modalitas
dan submodalitas ini dengan optimal. Dan ternyata
modal paling besar yang dianugrahkan Tuhan
bukanlah berupa harta kekayaan yang berlimpah,
namun berupa kelima indera dan kemampuan
berkreasi yang sudah ada dalam diri kita.
Jika para POW saja mampu bertahan hidup di
Dogpatch dengan menciptakan mataharinya sendiri,
lalu alasan apa yang membuat kita berkata bahwa kita
tidak mampu bertahan dan hidup sejahtera ditengah
keberlimpahan negeri ini? Bukankah Tuhan sudah
menganugrahkan modal yang cukup untuk bahkan
menciptakan “matahari” milik kita sendiri?
dibuat oleh :Adi Suandaharu
Konsultan, Internet Marketer
Penulis dapat dihubungi di:
suandharu@asli.or.id atau
adi.wisnu.suandharu@gmail.com
mengirimkan sekitar 500.000 lebih tentara nya
ke medan perang. Dari sekian banyak korban dari
pihak tentara Amerika, sepanjang tahun tersebut
ada 2.583 tentara yang dinyatakan ditahan atau
missing-in-action.
Para tawanan perang (dikenal dengan istilah POW -
Prisoner of War) ini dikumpulkan di sebuah sel yang
disebut “Dogpatch” di tengah hutan rimba Vietnam.
Disebut Dogpatch karena memang sel ini sangat
mirip dengan kandang anjing, dimana 20 POW
dimasukan ke dalam ruang gelap kecil di bawah
tanah tanpa jendela, sehingga cahaya matahari
sama sekali tidak terlihat. Akibatnya para POW
sama sekali tidak dapat membedakan kapan siang
dan malam.
Banyak dari para tawanan ini mengalami stres berat
dan akhirnya meninggal di dalam sel. Yang menarik
adalah ternyata dari sekian banyak tawanan perang
tersebut, ada beberapa orang yang masih dapat
bertahan hidup dan akhirnya dapat kembali pulang
ke Amerika pada tahun 1970-an. Pertanyaan nya
adalah “apa yang membedakan” antara orang yang
meninggal di dalam sel dan mereka yang dapat tetap
bertahan hidup?
Dari hasil wawancara dengan para POW yang
berhasil bertahan hidup di Dogpatch selama
bertahun-tahun, ternyata ada kesamaan yakni dari
cara mereka ber ‘imajinasi’ dan ‘kata-kata’ yang
mereka katakan berulang-ulang dalam hatinya.
Jadi, meskipun mereka hidup didalam kegelapan
sepanjang waktu, mereka mengimajinasikan bahwa
mereka tetap dapat ‘melihat’ dan ‘merasakan’ sinar
matahari pada siang hari, atau bulan di malam hari.
Dengan mengimajinasikan pergerakan matahari
atau bulan ini, mereka dapat tetap menjalani siklus
hidup mereka dengan ‘normal’ di dalam sel.
Mereka akan tidur saat ‘malam hari’ dan beraktivitas
pada ‘siang hari’. Selain itu juga mereka percaya
dan yakin, dengan ‘memilih’ menggunakan katakata
yang memberdayakan, bahwa suatu saat pasti
mereka akan dapat keluar dengan selamat dan
kembali bertemu keluarganya. Fenomena dan cerita
di atas sangat menarik dan menginspirasi buat saya
pribadi.
Namun cerita di atas semakin menginspirasi saya lagi
ketika saya belajar sebuah cabang ilmu yang disebut
NLP (Neuro-Linguistic Programming), karena saya
semakin paham bahwa manusia dikaruniai Tuhan
modal dan alat bertahan hidup yang sangat luar biasa
– kelima panca indera dan kemampuan ‘mencipta’.
Dalam NLP, kelima panca indera ini dikenal
dengan istilah Modalitas yang terdiri dari: Visual
(Penglihatan), Auditory (Pendengaran), Kinestetik
(Perasaan), Oldfactory (Penciuman) dan Gastutory
(Pengecapan). Namun yang membuat manusia
lebih hebat dibandingkan makhluk bumi lainnya,
bukanlah terletak pada kelima indera ini. Karena
binatang pun memiliki kelima indera ini. Bahkan
beberapa binatang tertentu memiliki kepekaan yang
jauh melebihi manusia. Sebagai contoh misalkan
penciuman anjing yang mampu mengendus jejak,
penglihatan elang yang sangat tajam, dsb.
Nah, yang membedakan manusia dari makhluk lain
nya adalah kemampuan ‘mencipta’ (creation) dengan
memanfaatkan modalitas ini, atau yang istilahnya
adalah SubModalitas.
Sebagai contoh sederhana adalah misalkan ketika
anda diminta membayangkan sebuah jeruk nipis
berwarna hijau (visual), yang kemudian dipotong
kemudian airnya diperas dan diteteskan ke lidah
anda (gastutory) dan terasa sangat asam. Beberapa
orang ketika diminta membayangkan hal ini sampai
mengeluarkan air liur di lidahnya. Pertanyaannya
apakah jeruk nipis tadi benar-benar ada di dunia
nyata atau sebuah realitas? Lalu mengapa beberapa
orang bahkan sampai mengeluarkan air liur
merasakan jeruk nipis yang asam ini?
Ternyata dengan kelima indera ini memungkinkan
manusia untuk menciptakan realitas di dalam
pikiran yang sama sekali berbeda dengan realitas
di dunia nyata. Kemampuan mencipta inilah yang
membuat manusia dapat menciptakan kebudayaan
dan peradaban. Inilah karunia Tuhan yang diberikan
HANYA pada manusia dan tidak pada makhluk
lainnya.
Mungkin anda pernah mendengar nama Darwis
Triadi – seorang fotographer ternama dari Indonesia.
Yang pasti, beliau adalah orang yang sangat piawai
memanfaatkan kemampuan visualnya sehingga
mampu menciptkan foto-foto terbaik yang dihargai
hingga ratusan juta rupiah per buah.
Atau juga seorang legenda musik Indonesia: Alm.
Chrisye (Raden Christian Rahadi, 1949-2007) yang
sepanjang hidupnya telah meluncurkan 21 solo -
album popular. Beliau adalah orang yang sangat
luar biasa cerdas dengan kemampuan auditorynya,
sehingga mampu mencipatkan ratusan buah lagu
yang mampu menggerakan emosi jutaan pendengar
musik di tanah air, hingga saat ini.
108
Ada juga Ronaldinho – pemain sepak bola asal Brazil
– yang lahir di Porto Alegre tahun 1980 ini mampu
menggandengkan FIFA Confederations Cup Golden
Ball & Golden Shoe pada tahun 1999 dan segudang
prestasi lainnya. Ronaldinho sangat optimal dalam
memanfaatkan kecerdasan kinestetik nya.
Tentu masih banyak jutaan contoh lainnya bagaimana
orang-orang menjadi besar dan terkenal sebetulnya
karena mampu memanfaatkan anugrah modalitas
dan submodalitas ini dengan optimal. Dan ternyata
modal paling besar yang dianugrahkan Tuhan
bukanlah berupa harta kekayaan yang berlimpah,
namun berupa kelima indera dan kemampuan
berkreasi yang sudah ada dalam diri kita.
Jika para POW saja mampu bertahan hidup di
Dogpatch dengan menciptakan mataharinya sendiri,
lalu alasan apa yang membuat kita berkata bahwa kita
tidak mampu bertahan dan hidup sejahtera ditengah
keberlimpahan negeri ini? Bukankah Tuhan sudah
menganugrahkan modal yang cukup untuk bahkan
menciptakan “matahari” milik kita sendiri?
dibuat oleh :Adi Suandaharu
Konsultan, Internet Marketer
Penulis dapat dihubungi di:
suandharu@asli.or.id atau
adi.wisnu.suandharu@gmail.com
SEBUAH BAUT KECIL
Baut-baut kecil lain berteriak menguatkan, “Awas! Berpeganglah erat-erat! Jika kamu lepas kami juga akan lepas!”
Teriakan itu didengar oleh lempengan-lempengan baja yang membuat mereka menyerukan hal yang sama. Bahkan seluruh bagian kapal turut memberi dorongan semangat pada satu baut kecil itu untuk bertahan.
“Sobat kecil, bertahanlah… kami mendukungmu…!”
Dukungan itu membuat baut kecil kembali menemukan arti penting dirinya di antara komponen kapal lainnya. Dengan sekuat tenaga, ia pun berusaha tetap bertahan demi keselamatan seisi kapal.
(Sumber : Grup Spirit LC)
Minggu, 21 Agustus 2011
Lima Kekuatan Untuk Optimalisasi Pengembangan Potensi Diri
Merdeka!! Tepat di hari Minggu, 17 Agustus 2008, hari kemerdekaan RI ke 63, saya diundang talkshow di Malang bersama Y.M. Uttamo Mahathera. Topik talkshow kali ini mengenai pengembangan potensi diri. Nah, ide menulis artikel ini muncul di tengah serunya acara tanya jawab yang dihadiri lebih dari 600 peserta.
Judul artikel ini mengatakan bahwa ada lima kekuatan yang bisa digunakan untuk mengembangkan potensi diri. Apakah lima kekuatan itu? Ini yang akan saya jelaskan secara urut di artikel ini.
Pertama, yaitu Kekuatan Keyakinan atau The Power of Belief. Mengapa harus dimulai dengan Kekuatan Keyakinan? Keyakinan adalah fondasi untuk melakukan apa saja. Kita baru akan bertindak bila kita merasa yakin mampu melakukan sesuatu. Jika tidak yakin maka upaya yang kita lakukan akan dikerjakan dengan setengah hati. Dan kita tahu, apapun yang dilakukan dengan setengah hati, tanpa kesungguhan, maka hasilnya pasti tidak akan pernah maksimal. Seringkali upaya kita, jika diawali dengan perasaan tidak yakin, akan berakhir dengan kegagalan.
Yakin pun ada syaratnya, tidak asal yakin. Yakin yang saya maksudkan di sini adalah yakin yang berlandaskan kebijaksanaan dan akal sehat. Tidak asal “yakin” dan “ngotot”.
Mengapa harus dilandasi kebijaksanaan?
Ya, karena yakin ini sebenarnya ada tiga macam. Pertama, yakin yang hanya bermain di level kognisi atau pikiran sadar. Kedua, yakin yang bermain pada level afeksi atau pikiran bawah sadar. Ada lagi yakin yang tipe ketiga yaitu yakin yang “ngaco” alias “ngawur”. Yakin tipe ini adalah yakin yang berlebihan atau overconfident tapi tidak ekologis.
Yakin tipe ketiga ini sangat berbahaya. Ini ada satu cerita nyata. Kawan saya pernah bercerita bahwa ada seorang kawannya, sebut saja Bu Yuni, yang setelah mengikuti suatu pelatihan motivasi, menjadi begitu semangat dan menjadi sangat-sangat yakin bahwa ia akan bisa sukses dalam waktu yang sangat singkat dan mudah.
Sepulang dari pelatihan itu Bu Yuni dengan “haqul yaqin” (sangat yakin) memutuskan bahwa ia dalam waktu maksimal 3 (tiga) bulan akan menjadi orang kaya dan akan berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp. 3 Miliar. Benar, anda tidak salah baca, 3 bulan untuk Rp. 3 miliar. Ck.. ck… ck… sungguh dahsyat sekali.
Kekuatan kedua untuk mengembangkan potensi diri adalah dengan Kekuatan Semangat atau The Power of Enthusiasm. Yang menjadi komponen atau bagian dari Kekuatan Semangat adalah konsistensi, persistensi, kegigihan, atau whatever it takes.
Tindakan yang dilandasi dengan suatu keyakinan yang teguh, bahwa kita pasti bisa berhasil, pasti akan dilakukan dengan penuh semangat. Semangat ini sebenarnya adalah motivasi intrinsik atau dorongan bertindak yang berasal dari dalam diri kita. Kekuatan Semangat ini yang membuat seseorang akan terus mencoba walaupun telah gagal berkali-kali. Kekuatan Semangat ini yang mendasari peribahasa “Tidak ada yang namanya kegagalan. Yang ada hanyalah hasil yang tidak seperti yang kita inginkan”, “Winners never quit. Quitters never win”, “Tidak penting berapa kali anda jatuh, yang penting adalah berapa kali anda bangkit setelah anda jatuh.”
Kekuatan Semangat ini yang menjadi pendorong Thomas Edison untuk terus mencoba walaupun ia telah berkali-kali “belum berhasil” menemukan bahan yang sesuai untuk membuat bola lampu listrik. Kekuatan Semangat ini pula yang mendorong Harland Sanders untuk terus menawarkan resep ayam gorengnya yang istimewa Kentucky Fried Chicken, walaupun ia telah ditolak berkali-kali.
Nah, bagaimana dengan kisah Bu Yuni? Saya lanjutkan ya ceritanya.
Bu Yuni, dengan bekal keyakinan yang “pasti” dan “kuat” memutuskan untuk menjalankan suatu usaha yang akan menjadi kendaraannya untuk mengumpulkan Rp. 3 miliar dalam waktu 3 bulan. Bu Yuni bekerja dengan sungguh serius.
Kekuatan ketiga adalah Kekuatan Fokus atau The Power of Focus. Fokus berarti kita hanya melakukan hal-hal yang memang berhubungan dengan target yang ingin kita capai. Pikiran kita menjadi sangat tajam, terpusat, seperti sinar laser yang siap untuk menembus berbagai penghalang. Kita tidak akan membiarkan berbagai cobaan atau distraksi membuat pikiran atau kegiatan kita menyimpang dari tujuan semula.
Saat Kekuatan Fokus bekerja kita akan sangat memperhatikan hal-hal detil dalam upaya mencapai keberhasilan. Kekuatan Fokus ini yang mendorong kita untuk menghasilkan master piece.
Sekarang saya lanjut lagi cerita tentang Bu Yuni. Apakah Bu Yuni fokus? Oh, sangat fokus. Begitu fokusnya sehingga ia bisa melihat banyak sekali peluang di sekitar dirinya. Bu Yuni mengajak kawannya kerjasama. Ia bahkan bersedia menanamkan modal yang cukup besar untuk mengembangkan bisnis kawannya karena ia yakin bisnis ini bisa memberikan sangat banyak uang dalam waktu yang singkat. Bahkan saat kawannya, yang selama ini telah menggeluti bisnis itu, mengatakan bahwa tidak mungkin bisa secepat itu perkembangan bisnisnya, walaupun mendapat suntikan dana besar, Bu Yuni tetap yakin, semangat, dan fokus berkata, “Ah, yang penting yakin. Kalau yakin maka segala sesuatu mungkin terjadi.”
Kekuatan keempat adalah Kekuatan Kedamaian Pikiran atau The Power of Peace of Mind. Kekuatan keempat ini sangat penting diperhatikan karena ini merupakan barometer untuk menentukan apakah keyakinan kita terhadap sesuatu itu ekologis atau tidak.
Saat kita yakin, semangat, dan fokus melakukan sesuatu maka kita perlu memeriksa apakah kita merasakan ketenangan baik di pikiran maupun di hati. Jika jawabannya “Tidak” maka kita perlu memeriksa ulang keyakinan kita.
Kita perlu memeriksa apakah keyakinan kita itu sudah benar-benar yakin ataukah lebih karena dorong emosi tertentu, misalnya emosi takut atau keserakahan.
Pada kasus Bu Yuni, ternyata ia sama sekali tidak merasakan kedamaian. Hal ini tampak dalam kehidupannya. Bu Yuni, dalam upaya mencapai targetnya, ternyata tidak mendapat dukungan dari suaminya. Bu Yuni tetap memaksakan kehendaknya. Ia bersikeras bahwa dengan keyakinannya yang pasti ia akan dapat mencapai apapun yang ia inginkan.
Apa yang terjadi? Bu Yuni sering ribut dengan suaminya dan selalu tampak murung dan stress.
Bila keyakinan kita bersifat ekologis, didasari dengan pikiran yang benar dan kebijaksanaan, maka saat kita bekerja keras dan giat untuk mencapai impian-impian kita, pikiran dan hati kita akan tetap merasa tenang, damai, dan bahagia. Ini adalah satu aspek penting yang jarang sekali diperhatikan oleh kebanyakan orang.
Perasaan tenang, damai, dan bahagia merupakan indikasi bahwa apa yang kita lakukan benar-benar kita yakini akan berhasil. Kita hanya tinggal melakukan kerjanya saja dan sukses sudah pasti akan kita dapatkan. Sukses hanyalah efek samping yang pasti akan terjadi.
Kekuatan kelima adalah Kekuatan Kebijaksanaan atau The Power of Wisdom. Kekuatan ini sangat penting karena digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap apa yang telah kita lakukan pada empat langkah pertama.
Dengan menggunakan kebijaksanaan kita dapat melakukan evaluasi dengan baik, benar,akurat, dan tanpa melibatkan emosi. Jika hasil yang dicapai belum seperti yang kita inginkan maka dengan menggunakan kebijaksanaan kita dapat mengetahui permasalahannya dan dapat meningkatkan diri kita.
Jika hasilnya sudah seperti yang kita inginkan maka, dengan menggunakan kebijaksanaan, kita dapat mempertahankan dan meningkatkan pencapaian itu.
Kebijaksanaan juga digunakan untuk memeriksa keyakinan atau kepercayaan yang menjadi langkah awal tindakan untuk mencapai goal. Dengan bijaksana kita dapat memeriksa keabsahan keyakinan kita. Apakah kita sudah benar-benar yakin secara benar ataukah kita sebenarnya tidak yakin tapi memaksa diri yakin karena kita takut?
Bu Yuni ternyata tidak menggunakan Kekuatan Keyakinan dalam mengejar impiannya. Setelah mendengar penjelasan kawan saya secara cukup detil saya akhirnya menyimpulkan bahwa Bu Yuni ini sebenarnya tidak yakin namun ia memaksakan kehendak, tanpa mempertimbangkan kondisi riil yang sedang ia alami, untuk bisa sukses.
Ternyata emosi yang mendorong Bu Yuni untuk “Yakin” adalah ketakutannya akan masa depan. Ia, setelah menghadiri seminar motivasi, menjadi “sangat yakin” dengan apa yang diajarkan oleh si pembicara dan akhirnya menjadi “buta” oleh emosinya sendiri.
Hal ini diperkuat lagi saat Bu Yuni mendapat peneguhan dari mentornya, pembicara tadi, yang mengatakan, “Pokoknya, kalo kamu yakin, maka kamu bisa mencapai apapun yang anda inginkan.”
Pembaca, belief seperti ini, yang menggunakan kata-kata “pokoknya”, yang saya kategorikan sebagai “belief” yang perlu diwaspadai. Belief ini seringkali tidak membumi dan menyesatkan.
Bila kita menggunakan lima kekuatan yang telah saya jelaskan dalam artikel ini maka dengan bekal yakin, semangat, fokus, damai, dan bijaksana niscaya kita akan dapat mengembangkan potensi diri secara optimal
Label:
cerita seru,
motivasi,
organisasi dan mahasiswa,
Pengembangan diri,
percaya diri,
rasasurabaya,
rasasurabaya.blogspot.com,
surabaya,
warna-warni surabaya
Mengenal Suara Hati Yang Sesungguhnya
Di salah satu seminar saya mendapat pertanyaan yang membuat saya merenung cukup lama, “Pak, apa sih sebenarnya suara hati itu? Apakah suara hati selalu baik untuk kita? Apa suara hati harus selalu kita ikuti? Apa parameter yang digunakan sehingga kita tahu bahwa yang kita “dengar” adalah benar-benar suara hati nurani kita dan bukan “suara” yang lain?”
Karena keterbatasan waktu saya hanya bisa memberikan jawaban singkat. Namun pertanyaan ini terus bermain di benak saya seolah-olah berkata, “Hei, jawaban yang tadi kamu berikan ke peserta itu belum tuntas. Ayo dong… mikir yang lebih keras. Masa jawabannya hanya seperti itu.”
Nah, malam hari sebelum tidur saya mulai berpikir dan berpikir. Hasil pemikiran saya cross-check dengan beberapa literatur yang pernah saya baca sebelumnya. Setelah itu saya bandingkan dengan berbagai pengalaman hidup yang telah saya alami. Nah, dalam kesempatan ini ijinkan saya untuk bebagi pengalaman dan pemahaman saya yang mengkristal dalam bentuk jawaban atas pertanyaan di atas.
Di buku Hypnotherapy : The Art of Subconscious Restructuring saya menjelaskan mengenai salah satu teknik terapi yang dikenal dengan nama Ego State Therapy atau ada juga yang menyebutnya sebagai Parts Therapy.
Inti dari teknik ini adalah kita berkomunikasi dengan “Bagian” (Ego State atau Parts) dari diri kita yang selama ini menghambat kemajuan kita. Teknik ini sangat efektif untuk menyelesaikan konflik diri (inner conflict).
Bagi terapis yang telah menjalani pelatihan intensif dan mengerti betul teorinya maka akan sangat mudah melakukan teknik ini. Namun bagaimana dengan orang yang tidak mendapat pelatihan ini?
Parts / Ego State
Sebelum saya meneruskan uraian ijinkan saya untuk sedikit membahas mengenai Parts atau Ego State. Ada juga yang menyebutnya sebagai Sub Personality. Untuk mudahnya saya akan menggunakan istilah “Bagian”.
Di dalam diri kita ada banyak “Bagian”. Setiap bagian ini menyerupai “seseorang” dengan kepribadian, karakter, memori, rule, belief, value, dan tujuan masing-masing. Saat mereka bekerja secara harmonis, saat hubungan sesama “Bagian” ini baik maka hidup kita akan sangat lancar. Namun saat ada di antara mereka yang konflik, dan biasanya ini bisa melibatkan lebih dari 2 “Bagian”, maka kita mengalami konflik diri.
Cara “Bagian” ini berkomunikasi dengan kita biasanya dengan menggunakan perasaan dan self talk atau inner dialogue/voice. Apakah hanya dengan dua cara ini saja? Oh tidak. Masih ada cara lain yang jarang atau tidak kita sadari, walaupun sebenarnya kita telah mengalaminya. Nanti di bagian akhir artikel ini akan saya membahas secara lebih mendalam. Untuk saat ini kita fokus pada self talk dan perasaan.
Saat paling mudah untuk mengamati “Bagian” ini saling berkomunikasi adalah saat kita baru bangun tidur. Biasanya ada 2 “Bagian” yang saling berbicara. Satu “Bagian” mau kita segera bangun. Dan satu “Bagian” lagi ingin kita tetap berbaring dan tidur lebih lama lagi. Masing-masing “Bagian” memberikan argumentasi masing-masing. Yang umumnya terjadi seperti ini:
Bagian 1 : Hei.. bangun. Sudah siang nih. Sudah waktunya masuk kerja.
Bagian 2 : Nggak usah bangun dulu. Santai aja kenapa sih. Kan tadi malam dia tidurnya malam sekali. Jadi dia butuh waktu sedikit lagi untuk istirahat.
Bagian 1: Lho, kalau nggak bangun sekarang nanti terlambat masuk kantor. Bos bisa marah besar. Kan dia ada janji sama pelanggannya.
Bagian 2 : Ala… lima menit saja kenapa sih. Nggak bisa lihat orang senang ya?
Nah pembaca anda pernah kan mengalami self talk seperti ini? Saat 2 “Bagian” ini saling beradu argumentasi kita hanya menjadi pengamat. Sampai satu saat kita memutuskan untuk mengikuti salah satu “saran” yang diberikan. Kita bangun… atau terus tidur. Masing-masing “Bagian” punya “kepentingan” sendiri yang mereka pikir baik untuk kita. Mana yang benar-benar baik? Ini membutuhkan kejelian kita untuk menganalisa.
Berguru Pada Hingar Bingar Keheningan
Pembaca, mengapa saat mau bangun tidur kita mudah sekali mengamati self talk kita? Mengapa saat baru bangun tidur kita dapat dengan sangat mudah, bahkan tanpa perlu upaya, bisa mengikuti dialog internal yang terjadi di dalam diri kita? Mengapa kalau sudah bangun dan mulai aktif menjalani hari kita malah sulit sekali mendengar suara itu?
Jawabannya sebenarnya sangat mudah. Saat kita baru bangun tidur pikiran kita masih tenang. Saat itu kita masih “hening”. Belum banyak hal, buah pikir, masalah, atau thought yang kita pikirkan. Dengan demikian pikiran kita masih tenang dan hening. Setenang air di danau saat pagi hari. Kalau sudah siang, saat air (baca: pikiran) sudah bergejolak dan banyak riak maka kita akan sangat sulit untuk bisa melihat ke dalam atau dasar danau.
Nah, justru saat pikiran berada dalam kondisi tenang atau hening kita justru akan “mendengar” hingar bingar yang selama ini tidak kita dengar. Justu saat pikiran hening kita bisa belajar dengan melakukan pengamatan terhadap dialog internal yang terjadi, tanpa perlu melibatkan diri di dalam dialog itu. Kita hanya akan melibatkan diri bila dirasa perlu dan untuk tujuan tertentu.
Membedakan Suara Hati Nurani dan Suara Ego Yang Sakit
Sebelum menulis bagian ini saya teringat satu klien yang pernah saya tangani. Saat itu saya berdialog dengan 4 (empat) “Bagian” dari diri klien. Klien ini mengalami kecemasan yang sangat tinggi dan sudah delapan tahun lebih berobat ke luar negeri.
Setiap satu setengah bulan sekali ia harus menemui dokter di rumah sakit, di luar negeri, mendapat injeksi obat tertentu dan sekaligus membeli tambahan obat yang harus ia minum secara rutin. Begitu tingginya kecemasannya sampai si klien, selama delapan tahun terakhir, setiap hari mendengar berbagai suara.
Suara ini memberikan perintah yang aneh-aneh, bahkan yang merugikan dan membahayakan hidup klien. Ada suara yang memberikan perintah yang seakan-akan demi kebaikan dan kebahagian klien namun bila dianalisa secara hati-hati, membandingkannya dengan sifat suara Hati Nurani yang saya jelaskan di bawah, ternyata sangat bertolak belakang.
Dalam kesempatan ini saya tidak akan membahas mengenai klien ini. Yang ingin saya sampaikan adalah bagaimana kita, sebagai orang biasa, bisa mengenali dan membedakan suara yang sungguh-sungguh berasal dari Hati Nurani dan suara yang berasal dari “Bagian” atau Ego yang sakit.
Saya percaya bahwa Hati Nurani setiap manusia bersifat bersih dan tulus. Hati Nurani ini adalah selalu baik adanya. Ada rekan saya yang mengatakan bahwa Hati Nurani mewakili sifat-sifat Illahi di dalam diri manusia. Dan masih menurut kawan saya ini, saat seseorang berdoa kepada Tuhan maka jawaban dari Tuhan datang melalui suara Hati Nurani.
Nah, berangkat dari pemahaman ini maka saya menyimpulkan bahwa suara Hati Nurani pasti mempunyai sifat-sifat berikut:
•Berdasarkan cinta kasih yang tulus tanpa pamrih
•Selalu ingin yang terbaik untuk diri kita
•Berlandaskan nilai-nilai Kebenaran Universal
•Jujur, tulus, dan apa adanya, walau kadang terasa menyakitkan perasaan kita.
•Menghargai diri kita dan juga orang lain
•Penuh kelembutan dan ketenangan namun sangat kuat
•Penuh pengertian dan toleransi
•Memberikan perspektif atau pemahaman baru terhadap suatu kejadian atau peristiwa sehingga meningkatkan level kesadaran kita.
Memahami Komunikasi Suara Hati Nurani
Banyak orang yang telah mengalami, tidak hanya mendengar, suara hati namun mereka tidak menyadarinya. Mengapa mereka tidak menyadarinya? Karena mereka tidak mengerti cara Hati Nurani berkomunikasi.
Nah, bagaimana sih bentuk komunikasi yang biasa digunakan oleh Hati Nurani?
Ada beberapa cara. Pertama, seperti yang telah saya jelaskan di awal artikel ini yaitu dengan menggunakan self talk atau inner dialogue. Saat pikiran hening kita bisa mendengar suara Hati Nurani dengan jelas. Kita bahkan bisa berdialog dengan Hati Nurani.
Kedua, melalui perasaan atau yang sering disebut sebagai gut feeling. Seringkali saat akan melakukan sesuatu ada perasaan tertentu yang memberikan sinyal apakah kita bisa terus atau harus berhenti. Nah, perasaan atau gut feeling ini sebenarnya juga bentuk komunikasi dari Hati Nurani kepada kita.
Jika anda cukup tanggap, seringkali perasaan ini memberikan sinyal yang cukup jelas. Saat anda mengabaikan perasaan ini, misalnya saat anda ingin melakukan sesuatu tiba-tiba muncul perasaan yang meminta anda untuk tidak melakukannya, dan anda tetap melakukan yang anda inginkan ternyata hasilnya justru sangat merugikan diri anda.
Nah, saat itu anda berkata, “Coba tadi saya mengikuti suara hati saya. Pasti nggak akan mengalami kerugian seperti ini.”
Ada banyak contoh kasus mengenai gut feeling. Seorang klien pernah bercerita mengenai hal ini kepada saya. Saat hendak memulai satu bisnis dengan kawan dekatnya ia mendapat gut feeling yang mengatakan bahwa ia tidak boleh melakukan kerja sama ini. Gut feeling-nya mendapat dukungan dari gut feeling istrinya yang juga kurang setuju dengan rencananya. Tapi tetap ia abaikan.
Apa yang terjadi?
Bisnis yang semula berjalan baik akhirnya harus dihentikan karena mereka berbeda visi dan misi. Pada awalnya klien saya merasa ia dan kawannya sudah benar-benar sehati, satu visi, satu misi, dan satu nilai. Namun ternyata setelah bisnis semakin berkembang tampak jelas perbedaannya. Yang satu tetap fokus pada tujuan semula, yang satu lagi hanya fokus pada uang dan uang. Sehingga keputusan yang dibuat seringkali tidak sesuai dengan tujuan semula.
Ketiga, melalui ide yang bersifat menginspirasi. Saya yakin anda pasti pernah mengalami saat berdoa meminta petunjuk dari Tuhan, eh.. tanpa disangka-sangka muncul satu ide kreatif yang menginspirasi anda melakukan sesuatu. Ternyata saat anda melaksanakan ide ini masalah anda selesai. Jadi, ide ini adalah jawaban yang anda butuhkan.
Ide ini bisa muncul tiba-tiba, bisa juga muncul setelah dipicu oleh faktor lain. Faktor lain ini bisa berupa informasi dari buku yang sedang anda baca, bisa dari televisi, bisa saat mendengar kisah orang lain, bisa dari mana saja. Tapi intinya, kita mendapat jawaban dalam bentuk ide.
Keempat, pergeseran persepsi. Yang dimaksud dengan pergeseran persepsi ini begini. Misalnya ada seseorang, katakanlah salah satu saudara kita, yang telah kita bantu dengan tulus, saat ia mengalami kesulitan hidup, kita beri kepercayaan dan kesempatan untuk berkembang, ternyata setelah ia agak “kuat”, ia menghianati kepercayaan kita.
Bagaimana perasaan kita? Ya, sudah tentu marah dan kecewa. Namun seiring berjalannya waktu perasaan kita berubah. Dari yang tadinya marah, kecewa, sakit hati, jengkel, dendam, dan berbagai emosi negatif lainnya, kita kini malah merasa kasihan dan prihatin dengan saudara kita ini.
Mengapa berubah dari sakit hati menjadi kasihan dan prihatin?
Karena pemahaman kita semakin berkembang, semakin bijaksana, mendapat insight yang mengakibatkan terjadinya peningkatan level kesadaran.
Kita kasihan dan prihatin bahwa saudara kita ini akan mengalami banyak kesulitan hidup bila ia tidak menyadari bahwa apa yang ia lakukan itu adalah hal yang salah dan justru akan sangat merugikan dirinya di masa mendatang.
Kita kasihan dan prihatin karena bisa saja sebenarnya saudara kita ini tidak menyadari apa yang ia lakukan. Bisa jadi ini adalah salah satu bentuk sabotase diri yang sangat halus yang tidak disadari oleh saudara kita. Kemarahan dan kekecewaan sekarang telah berganti dengan perasaan prihatin, kasihan, dan bahkan perasaan sayang ingin membantu saudara kita ini.
Kelima, melalui kebetulan yang tidak kebetulan. Seringkali kita mengalami suatu kejadian, yang kita rasa suatu kebetulan, yang sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, bukan kebetulan, maka disebutlah dengan kebetulan yang tidak kebetulan, yang kebetulan membuat anda bingung. Nah, kebetulan ini sebenarnya bentuk komunikasi Hati Nurani dengan kita. Namun seringkali kita mengabaikannya.
Ada satu contoh nih. Seorang pria ingin membayar lunas hutangnya sebelum ia pindah kerja ke kota lain. Bosnya tahu rencana ia pindah kota. Akibatnya malah bosnya mempercepat proses “berhenti” kerja sehingga pria ini tidak punya penghasilan untuk membayar utangnya.
Pria ini marah sekali pada bosnya. Ia merasa bosnya telah menghancurkan hidupnya. Pria ini juga berdoa agar bisa mendapat bantuan keluar dari kesulitannya ini. Saat ia membuka kitab sucinya, eh.. tiba-tiba matanya terpaku pada ayat yang berbunyi, “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang ………………….”.
Pria ini memutuskan untuk memaafkan mantan bosnya dengan tulus. Ia malah mendoakan agar usaha mantan bosnya ini bisa semakin maju dan berkembang.
Apa yang terjadi kemudian?
Di hari yang sama ada seorang famili yang mampir ke rumahnya dan menyerahkan amplop berisi uang. Jumlahnya persis sama seperti yang ia butuhkan untuk melunasi utangnya.
Saat ditanya mengapa familinya kok menyerahkan uang kepadanya, ia mendapat jawaban yang justru lebih aneh lagi, “ Minggu lalu ada dorongan di hati saya untuk melihat kembali perhitungan keuntungan yang kita dapatkan saat mengerjakan proyek beberapa waktu lalu. Nah, tiba-tiba saya lihat ada kesalahan perhitungan. Setelah saya hitung ulang maka kamu seharusnya dapat lebih. Saya sudah mau ke rumahmu. Tapi selalu saja repot nggak bisa. Baru hari ini saya ada waktu luang. Inipun setelah ada satu janji yang dibatalkan secara mendadak oleh si customer.”
Pria ini langsung teringat bahwa benar ia mulai berdoa mohon bantuan sejak minggu lalu. Rupanya kemarahannya ini yang membuat “bantuan” yang ia butuhkan tidak kunjung tiba. Dan setelah ia memaafkan mantan bosnya, eh.. tiba-tiba bantuan datang.
Apakah ini kebetulan? Tentu tidak.
Keenam, melalui mimpi. Seringkali saat kita sangat membutuhkan jawaban untuk mengatasi masalah yang sedang kita hadapi, setelah kita cari ke mana-mana tetap nggak dapat jawabannya, eh.. saat tidur kita mendapat mimpi yang merupakan jawaban atas pertanyaan kita. Anda pernah mengalaminya?
Nah, pembaca, setelah membaca sejauh ini, saya berharap anda sekarang bisa lebih jelas mengenai suara Hati Nurani. Apapun “jawaban” yang anda dapatkan harus anda cross check dengan sifat-sifat Hati Nurani yang saya jelaskan di atas.
Pada kasus klien saya, ia berkata bahwa suara hatinya mengatakan bahwa sebaiknya ia mati. Suara hatinya mengatakan bahwa ia tidak akan bisa bahagia hidup di dunia ini.
Nah, ini benar-benar suara Hati Nurani atau suara Ego yang sakit?
by :http://adiwgunawan.com/awg.php?co=p5&mode=detil&ID=189
BERKOMUNIKASI DENGAN DIRI KITA
Cara Mudah Berbicara Dengan Part atau Bagian Diri
Sejak buku The Secret of Mindset beredar, khususnya edisi hardcover yang ada bonus CD Ego State Therapy, saya mendapat banyak respon mengenai pengalaman pembaca buku yang menggunakan CD ini untuk berdialog dengan diri sendiri.
Ada yang dengan mudah bisa langsung berbicara dengan Part atau Ego State mereka. Ada yang kadang bisa kadang nggak, sepertinya si Part ini agak “nakal”. Ada juga yang sudah mencoba berkali-kali tapi tetap belum bisa berkomunikasi dengan Part mereka.
Mengapa berbicara dengan Part ini gampang-gampang susah?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang sulit berkomunikasi dengan Part:
1. Perasaan Takut
Yang paling utama adalah perasaan takut karena berpikir bahwa yang ia ajak bicara adalah suatu entitas atau”makhluk” yang masuk ke dalam dirinya, seperti orang yang kerasukan. Padahal pandangan ini sungguh tidak tepat dan tidak berdasar.
Jika perasaan takut dan tidak nyaman ini muncul sebelum berbicara dengan Part maka bisa dipastikan tidak akan terjadi dialog sama sekali. Mengapa? Karena perasaan takut ini mem-block atau menghambat proses komunikasi.
Apa sih sebenarnya Part ini?
Part atau Ego State adalah Bagian dari diri kita. Bagian ini paling mudah diamati atau disadari kegiatannya saat kita baru bangun tidur. Biasanya akan ada dua Bagian Diri yang berdialog. Satu Bagian mau kita segera bangun.Satu Bagian lagi mau kita tetap santai berbaring lima menit lagi.
Dialog antar Bagian juga bisa dirasakan atau diamati saat kita hendak memutuskan sesuatu. Biasanya minimal akan ada dua Bagian yang saling berkomunikasi dan mengajukan argumentasi mereka masing-masing.
Jadi, anda jelas sekarang bahwa Part ini sebenarnya tidak lebih dari program pikiran yang ada di pikiran bawah sadar. Part beroperasi dengan pemikiran, memori, preferensi, logika berpikir, paradigma, keyakinan, nilai hidup, belief, sikap, perilaku, dan kebiasaan mereka yang unik.
2. Pikiran Kurang Rileks
Yang membuat pikiran sulit rileks adalah adanya perasaan takut. Alasan lainnya teknik rileksasi yang digunakan tidak tepat karena tidak sesuai dengan tipe sugestibilitas. Yang sulit berdialog dengan Part biasanya mereka yang (sangat) analitikal. Untuk mengatasi hal ini maka pikiran perlu dibuat rileks.
Mengapa pikiran perlu rileks?
Ceritanya begini. Biar mudahnya saya akan menggunakan analogi laut dan ikan paus. Ikan paus menghabiskan 90% waktunya di dalam air. Jadi mereka jarang sekali muncul ke permukaan. Kalaupun naik ke permukaan mereka hanya menyeburkan udara kotor dan menghirup udara segar. Setelah itu masuk lagi ke dalam laut.
Kita akan tahu ada ikan paus naik ke permukaan dari semburan air yang muncrat tinggi ke udara. Dari kejauhan kita tetap bisa melihat semburan ini. Tapi dengan satu syarat yaitu semburan hanya bisa dilihat bila laut dalam kondisi tenang. Namun bila saat itu laut sedang bergolak, ada gelombang besar, dan petir menyambar, atau bahkan badai, maka akan sangat sulit melihat semburan air yang dikeluarkan ikan paus.
Ikan paus ini sama dengan informasi yang berasal dari pikiran bawah sadar (theta) dan nirsadar (delta). Permukaan laut sama dengan beta. Bila beta sangat aktif maka pikiran bergolak. Bila saat pikiran bergolak dan ada banyak buah pikir (thought) atau bentuk-bentuk pikiran yang muncul dan tenggelam dengan cepat, dan misalnya pada saat itu ada informasi dari pikiran bawah sadar/nirsadar yang naik ke permukaan maka akan sulit dikenali. Namun bila pikiran kita tenang, beta kita rileks, maka kita bisa dengan mudah mengenali informasi yang muncul ke “permukaan”.
Lalu, apa sih sebenarnya yang terjadi saat kita berdialog dengan Part?
Saat berdialog maka kita mengajukan pertanyaan yang sangat spesifik, ini adalah aktivitas gelombang beta, dan pertanyaan ini selanjutnya turun dari beta melalui alfa, jembatan ke bawah sadar, masuk ke theta atau delta, dan dari sini akan ada jawaban yang muncul, dan melalui proses yang sama, naik ke alfa, terus ke beta, dan kita mendapatkan jawaban.
3. Pertanyaan yang Diajukan Tidak Spesifik
Banyak orang membuat kesalahan dengan mengajukan pertanyaan yang tidak spesifik, misalnya, “Mengapa saya kok belum sukses?”
Bila dilihat sepintas pertanyaan ini sepertinya sudah benar. Namun pikiran bawah sadar akan bingung. Mengapa? Karena sukses yang dimaksud di aspek yang mana? Apakah di aspek spiritual, finansial, relasi, emosi, fisik, mental, materi, atau apa?
Kalau pertanyaannya tidak spesifik maka akan ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, kita tidak akan mendapat jawaban. Kedua, jawaban muncul tapi tidak seperti yang kita harapkan.
Berbicara dengan Part sama dengan kita menghubungi satu perusahaan besar. Saat telpon masuk ke operator maka kita harus spesifik minta disambungkan ke divisi (Bagian) mana. Jika tidak maka kita bisa salah dihubungkan dengan Bagian yang tidak ada kepentingannya dengan keperluan kita. Dan saat sudah tersambung ke Bagian itu kita perlu mengajukan pertanyaan yang spesifik agar juga mendapat jawaban yang spesifik seperti yang kita inginkan atau butuhkan.
4. Berharap Mendengar Suara Bisikan
Pemahaman keliru ini yang sering dipegang banyak orang. Mereka berpikir bahwa berbicara dengan Bagian sama seperti mendengar ada suara yang dibisikkan ke telinga mereka. Jadi saat mereka mengajukan pertanyaan, mereka berharap jawabannya muncul dalam suara yang didengar oleh telinga mereka seperti kalau berbicara dengan seseorang.
Part berkomunikasi bukan dengan cara seperti ini. Part berbicara dengan menggunakan self-talk atau internal dialog. Suara ini “didengar” dari dalam, bukan dari luar. Ada yang menyebutnya dengan suara hati.
5. Merasa Gagal Karena Tidak Bisa Melihat Part
Ada juga yang merasa tidak bisa berkomunikasi dengan Part karena merasa tidak bisa melihat Part ini. Sebenarnya kita tidak harus atau perlu melihat Part. Kita bisa menggunakan “pendengaran dalam” atau perasaan kita. Jadi, tidak harus melihat wujud Part.
Bagi yang visual maka Part bisa muncul dalam bentuk tertentu. Namun bagi yang auditori maka cukup hanya mendengar Part bicara. Kalau yang kinestetik, gunakan perasaan untuk mengerti apa yang disampaikan Part.
6. Terlalu Berharap Bisa Berkomunikasi Dengan Part
Sikap yang terlalu berharap untuk bisa berbicara dengan Part justru akan menghambat proses komunikasi. Saat kita sangat ingin maka saat itu pula pikiran sadar kita sangat aktif. Hal ini berarti beta kita akan sangat tinggi. Dalam kondisi ini komunikasi dengan Part pasti sulit dilaksanakan.
7. Niat Kurang Kuat
Ini juga salah satu penyebab sulitnya komunikasi dengan Part. Saat kita kurang niat atau tidak serius maka pikiran bawah sadar tidak akan melayani permintaan kita untuk berkomunikasi dengan Part. Niat ini berfungsi sebagai drive untuk mendorong pertanyaan kita turun dari pikiran sadar ke pikiran bawah sadar dengan cepat dan efektif.
Sebelum berkomunikasi kita perlu meniatkan untuk bertemu dengan Part ini. Anda perlu spesifik sekali. Part yang mana yang ingin anda ajak berkomunikasi.
8. Memang Tidak Ada Masalah
Seringkali orang berpikir mereka punya masalah, padahal sebenarnya tidak. Jika ini yang terjadi maka saat kita hendak berkomunikasi dengan Part maka sudah tentu tidak ada komunikasi. Lha, memang nggak ada masalah kok cari-cari masalah? Mengapa harus memaksa ada jawaban padahal tidak ada jawaban itu sebenarnya adalah jawaban yang sesungguhnya?
Lalu, bagaimana caranya untuk berkomunikasi dengan Part?
Ada tiga cara untuk berkomunikasi. Pertama, anda hanya menggunakan modalitas auditori atau suara. Caranya sebenarnya sangat mudah. Coba tutup mata sejenak. Dan dalam kondisi ini bertanyalah kepada diri sendiri, cukup bertanya di dalam hati, “Siapa nama lengkap saya?”, dan nantikan jawabannya. Saat anda mendapat jawaban maka sebenarnya anda telah bisa berkomunikasi dengan Part anda.
Coba tanyakan lagi beberapa hal kepada diri anda sendiri dan nantikan jawabannya. Dengan anda mengenali cara Part anda berkomunikasi, bisa merasakan atau “mendengar” suara Part, maka selanjutnya anda bisa melakukan proses yang sama namun dengan mengajukan pertanyaan lain yang berhubungan dengan masalah anda.
Cara kedua adalah dengan membayangkan Part ini keluar dari tubuh anda, tentunya anda membayangkan atau melakukan visualisasi, Part berada di depan anda, dan selanjutnya anda bertanya kepadanya. Dalam hal ini anda menggunakan dua modalitas sekaligus yaitu visual dan auditori. Anda melihat bentuk Part dan mendengar jawabannya.
Cara ketiga adalah dengan hanya menggunakan perasaan. Saat anda bertanya kepada Part, tidak harus muncul gambar, tidak harus ada suara yang terdengar, yang penting rasakan “jawaban” dari Part. Cara ini sangat efektif digunakan oleh orang kinestetik.
Nah, kalau sudah mahir melakukan komunikasi dengan Part maka kita tidak harus masuk kondisi rileks dulu. Saya paling sering berkomunikasi dengan Part saat sedang mengendarai mobil. Pada saat ini pikiran sadar saya sedang sibuk memperhatikan jalan sehingga tidak menganggu proses komunikasi saya dengan pikiran bawah sadar. Selain itu saya juga menggunakan kesempatan saat meditasi di pagi hari untuk berkomunikasi dengan Part. Saat pikiran tenang, hening, dan rileks, maka saat itu adalah saat yang paling pas dan nyaman untuk berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar atau Part.
Namun jangan salah mengerti ya. Saya tidak setiap hari mencari Part untuk diajak komunikasi. Saya hanya melakukan bila dirasa perlu. Kalau sedikit-sedikit cari Part, sedikit-sedikit cari Part, cari Part kok sedikit… eh.. salah, maksud saya kalau terus-terusan cari Part maka ini namanya kurang kerjaan.
Sejak buku The Secret of Mindset beredar, khususnya edisi hardcover yang ada bonus CD Ego State Therapy, saya mendapat banyak respon mengenai pengalaman pembaca buku yang menggunakan CD ini untuk berdialog dengan diri sendiri.
Ada yang dengan mudah bisa langsung berbicara dengan Part atau Ego State mereka. Ada yang kadang bisa kadang nggak, sepertinya si Part ini agak “nakal”. Ada juga yang sudah mencoba berkali-kali tapi tetap belum bisa berkomunikasi dengan Part mereka.
Mengapa berbicara dengan Part ini gampang-gampang susah?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang sulit berkomunikasi dengan Part:
1. Perasaan Takut
Yang paling utama adalah perasaan takut karena berpikir bahwa yang ia ajak bicara adalah suatu entitas atau”makhluk” yang masuk ke dalam dirinya, seperti orang yang kerasukan. Padahal pandangan ini sungguh tidak tepat dan tidak berdasar.
Jika perasaan takut dan tidak nyaman ini muncul sebelum berbicara dengan Part maka bisa dipastikan tidak akan terjadi dialog sama sekali. Mengapa? Karena perasaan takut ini mem-block atau menghambat proses komunikasi.
Apa sih sebenarnya Part ini?
Part atau Ego State adalah Bagian dari diri kita. Bagian ini paling mudah diamati atau disadari kegiatannya saat kita baru bangun tidur. Biasanya akan ada dua Bagian Diri yang berdialog. Satu Bagian mau kita segera bangun.Satu Bagian lagi mau kita tetap santai berbaring lima menit lagi.
Dialog antar Bagian juga bisa dirasakan atau diamati saat kita hendak memutuskan sesuatu. Biasanya minimal akan ada dua Bagian yang saling berkomunikasi dan mengajukan argumentasi mereka masing-masing.
Jadi, anda jelas sekarang bahwa Part ini sebenarnya tidak lebih dari program pikiran yang ada di pikiran bawah sadar. Part beroperasi dengan pemikiran, memori, preferensi, logika berpikir, paradigma, keyakinan, nilai hidup, belief, sikap, perilaku, dan kebiasaan mereka yang unik.
2. Pikiran Kurang Rileks
Yang membuat pikiran sulit rileks adalah adanya perasaan takut. Alasan lainnya teknik rileksasi yang digunakan tidak tepat karena tidak sesuai dengan tipe sugestibilitas. Yang sulit berdialog dengan Part biasanya mereka yang (sangat) analitikal. Untuk mengatasi hal ini maka pikiran perlu dibuat rileks.
Mengapa pikiran perlu rileks?
Ceritanya begini. Biar mudahnya saya akan menggunakan analogi laut dan ikan paus. Ikan paus menghabiskan 90% waktunya di dalam air. Jadi mereka jarang sekali muncul ke permukaan. Kalaupun naik ke permukaan mereka hanya menyeburkan udara kotor dan menghirup udara segar. Setelah itu masuk lagi ke dalam laut.
Kita akan tahu ada ikan paus naik ke permukaan dari semburan air yang muncrat tinggi ke udara. Dari kejauhan kita tetap bisa melihat semburan ini. Tapi dengan satu syarat yaitu semburan hanya bisa dilihat bila laut dalam kondisi tenang. Namun bila saat itu laut sedang bergolak, ada gelombang besar, dan petir menyambar, atau bahkan badai, maka akan sangat sulit melihat semburan air yang dikeluarkan ikan paus.
Ikan paus ini sama dengan informasi yang berasal dari pikiran bawah sadar (theta) dan nirsadar (delta). Permukaan laut sama dengan beta. Bila beta sangat aktif maka pikiran bergolak. Bila saat pikiran bergolak dan ada banyak buah pikir (thought) atau bentuk-bentuk pikiran yang muncul dan tenggelam dengan cepat, dan misalnya pada saat itu ada informasi dari pikiran bawah sadar/nirsadar yang naik ke permukaan maka akan sulit dikenali. Namun bila pikiran kita tenang, beta kita rileks, maka kita bisa dengan mudah mengenali informasi yang muncul ke “permukaan”.
Lalu, apa sih sebenarnya yang terjadi saat kita berdialog dengan Part?
Saat berdialog maka kita mengajukan pertanyaan yang sangat spesifik, ini adalah aktivitas gelombang beta, dan pertanyaan ini selanjutnya turun dari beta melalui alfa, jembatan ke bawah sadar, masuk ke theta atau delta, dan dari sini akan ada jawaban yang muncul, dan melalui proses yang sama, naik ke alfa, terus ke beta, dan kita mendapatkan jawaban.
3. Pertanyaan yang Diajukan Tidak Spesifik
Banyak orang membuat kesalahan dengan mengajukan pertanyaan yang tidak spesifik, misalnya, “Mengapa saya kok belum sukses?”
Bila dilihat sepintas pertanyaan ini sepertinya sudah benar. Namun pikiran bawah sadar akan bingung. Mengapa? Karena sukses yang dimaksud di aspek yang mana? Apakah di aspek spiritual, finansial, relasi, emosi, fisik, mental, materi, atau apa?
Kalau pertanyaannya tidak spesifik maka akan ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, kita tidak akan mendapat jawaban. Kedua, jawaban muncul tapi tidak seperti yang kita harapkan.
Berbicara dengan Part sama dengan kita menghubungi satu perusahaan besar. Saat telpon masuk ke operator maka kita harus spesifik minta disambungkan ke divisi (Bagian) mana. Jika tidak maka kita bisa salah dihubungkan dengan Bagian yang tidak ada kepentingannya dengan keperluan kita. Dan saat sudah tersambung ke Bagian itu kita perlu mengajukan pertanyaan yang spesifik agar juga mendapat jawaban yang spesifik seperti yang kita inginkan atau butuhkan.
4. Berharap Mendengar Suara Bisikan
Pemahaman keliru ini yang sering dipegang banyak orang. Mereka berpikir bahwa berbicara dengan Bagian sama seperti mendengar ada suara yang dibisikkan ke telinga mereka. Jadi saat mereka mengajukan pertanyaan, mereka berharap jawabannya muncul dalam suara yang didengar oleh telinga mereka seperti kalau berbicara dengan seseorang.
Part berkomunikasi bukan dengan cara seperti ini. Part berbicara dengan menggunakan self-talk atau internal dialog. Suara ini “didengar” dari dalam, bukan dari luar. Ada yang menyebutnya dengan suara hati.
5. Merasa Gagal Karena Tidak Bisa Melihat Part
Ada juga yang merasa tidak bisa berkomunikasi dengan Part karena merasa tidak bisa melihat Part ini. Sebenarnya kita tidak harus atau perlu melihat Part. Kita bisa menggunakan “pendengaran dalam” atau perasaan kita. Jadi, tidak harus melihat wujud Part.
Bagi yang visual maka Part bisa muncul dalam bentuk tertentu. Namun bagi yang auditori maka cukup hanya mendengar Part bicara. Kalau yang kinestetik, gunakan perasaan untuk mengerti apa yang disampaikan Part.
6. Terlalu Berharap Bisa Berkomunikasi Dengan Part
Sikap yang terlalu berharap untuk bisa berbicara dengan Part justru akan menghambat proses komunikasi. Saat kita sangat ingin maka saat itu pula pikiran sadar kita sangat aktif. Hal ini berarti beta kita akan sangat tinggi. Dalam kondisi ini komunikasi dengan Part pasti sulit dilaksanakan.
7. Niat Kurang Kuat
Ini juga salah satu penyebab sulitnya komunikasi dengan Part. Saat kita kurang niat atau tidak serius maka pikiran bawah sadar tidak akan melayani permintaan kita untuk berkomunikasi dengan Part. Niat ini berfungsi sebagai drive untuk mendorong pertanyaan kita turun dari pikiran sadar ke pikiran bawah sadar dengan cepat dan efektif.
Sebelum berkomunikasi kita perlu meniatkan untuk bertemu dengan Part ini. Anda perlu spesifik sekali. Part yang mana yang ingin anda ajak berkomunikasi.
8. Memang Tidak Ada Masalah
Seringkali orang berpikir mereka punya masalah, padahal sebenarnya tidak. Jika ini yang terjadi maka saat kita hendak berkomunikasi dengan Part maka sudah tentu tidak ada komunikasi. Lha, memang nggak ada masalah kok cari-cari masalah? Mengapa harus memaksa ada jawaban padahal tidak ada jawaban itu sebenarnya adalah jawaban yang sesungguhnya?
Lalu, bagaimana caranya untuk berkomunikasi dengan Part?
Ada tiga cara untuk berkomunikasi. Pertama, anda hanya menggunakan modalitas auditori atau suara. Caranya sebenarnya sangat mudah. Coba tutup mata sejenak. Dan dalam kondisi ini bertanyalah kepada diri sendiri, cukup bertanya di dalam hati, “Siapa nama lengkap saya?”, dan nantikan jawabannya. Saat anda mendapat jawaban maka sebenarnya anda telah bisa berkomunikasi dengan Part anda.
Coba tanyakan lagi beberapa hal kepada diri anda sendiri dan nantikan jawabannya. Dengan anda mengenali cara Part anda berkomunikasi, bisa merasakan atau “mendengar” suara Part, maka selanjutnya anda bisa melakukan proses yang sama namun dengan mengajukan pertanyaan lain yang berhubungan dengan masalah anda.
Cara kedua adalah dengan membayangkan Part ini keluar dari tubuh anda, tentunya anda membayangkan atau melakukan visualisasi, Part berada di depan anda, dan selanjutnya anda bertanya kepadanya. Dalam hal ini anda menggunakan dua modalitas sekaligus yaitu visual dan auditori. Anda melihat bentuk Part dan mendengar jawabannya.
Cara ketiga adalah dengan hanya menggunakan perasaan. Saat anda bertanya kepada Part, tidak harus muncul gambar, tidak harus ada suara yang terdengar, yang penting rasakan “jawaban” dari Part. Cara ini sangat efektif digunakan oleh orang kinestetik.
Nah, kalau sudah mahir melakukan komunikasi dengan Part maka kita tidak harus masuk kondisi rileks dulu. Saya paling sering berkomunikasi dengan Part saat sedang mengendarai mobil. Pada saat ini pikiran sadar saya sedang sibuk memperhatikan jalan sehingga tidak menganggu proses komunikasi saya dengan pikiran bawah sadar. Selain itu saya juga menggunakan kesempatan saat meditasi di pagi hari untuk berkomunikasi dengan Part. Saat pikiran tenang, hening, dan rileks, maka saat itu adalah saat yang paling pas dan nyaman untuk berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar atau Part.
Namun jangan salah mengerti ya. Saya tidak setiap hari mencari Part untuk diajak komunikasi. Saya hanya melakukan bila dirasa perlu. Kalau sedikit-sedikit cari Part, sedikit-sedikit cari Part, cari Part kok sedikit… eh.. salah, maksud saya kalau terus-terusan cari Part maka ini namanya kurang kerjaan.
Jumat, 19 Agustus 2011
Dalam acara ultah Jarbis pada tangal 17 agustus 2011 kemarin saya mendapatkan pengalaman yang sangat luarbiasa, segudang pengetahuan yang tidak ternilai harganya dan yang paling membahagiakan juga, kita peserta mendapatkan e-book gratis dari para praktisi NLP yang sekarng ada MADE IN INDONESIA yaitu A.S.L.I (aliansi sadar linguistik Indonesia). DIi dalam proses membaca saya menemukan artikel bagus dari link buku itu, yaitu tetang mental block, jadi penasaran akhir nya saya menjari artikel tersebut, dan akhirnya saya menemukan dan ingin saya abadikan di blog saya.hheeh ini artikel nya silahkan menikmati:
Mental Block... Oh... Mental Block
Mental Block... Oh... Mental Block
Artikel ini saya tulis untuk menjawab banyak sekali pertanyaan yang diajukan kepada saya baik melalui email, sms, ataupun saat seminar. Ternyata masih banyak juga orang yang kurang jelas apa itu mental block, proses pembentukan, cara mengenali, dan yang lebih penting cara untuk mengatasi dan menghilangkan mental block.
Sebelum saya membahas apa itu mental block saya akan menjelaskan kembali proses pemrograman pikiran manusia.
Proses pemrograman pikiran sebenarnya telah terjadi sejak seorang anak masih di dalam kandungan ibunya, sejak ia berusia 3 bulan. Pada saat ini pikiran bawah sadar telah bekerja sempurna, merekam segala sesuatu yang dialami seorang anak dan ibunya. Semua peristiwa, pengalaman, suara, atau emosi masuk ke dan terekam dengan sangat kuat di pikiran bawah sadar dan menjadi program pikiran.
Saat kita lahir, kita lahir hanya dengan satu pikiran yaitu pikiran bawah sadar. Bekal lainnya adalah otak yang berfungsi sebagai hard disk yang merekam semua hal yang kita alami. Sejak lahir, dan sejalan dengan proses tumbuh kembang, kita mengalami pemrograman pikiran terus menerus, melalui interaksi kita dengan dunia di luar dan di dalam diri kita.
Pada anak kecil, yang memprogram pikirannya adalah terutama kedua orangtuanya, pengasuh, keluarga, lingkungan, guru, tv, dan siapa saja yang dekat dengan dirinya. Saat masih kecil pemrograman terjadi dengan sangat mudah karena pikiran anak belum bisa menolak informasi yang ia terima. Ketidakmampuan memfilter informasi ini disebabkan karena pada saat itu critical factor, atau faktor kritis, dari pikiran sadar belum terbentuk. Kalaupun sudah terbentuk critical factor masih lemah.
Pemrograman pikiran saat anak masih kecil terjadi melalui dua jalur utama yaitu melalui imprint danmisunderstanding. Definisi imprint adalah “a thought that has been registered at the subconscious level of the mind at a time of great emotion or stress, causing a change in behavior” atau imprint adalah apa yang terekam di pikiran bawah sadar saat terjadinya luapan emosi atau stress, mengakibatkan perubahan pada perilaku.
Misunderstanding adalah salah pengertian yang dialami seseorang saat memberikan makna kepada atau menarik simpulan dari suatu peristiwa atau pengalaman.
Baik imprint maupun misunderstanding, setelah terekam di pikiran bawah sadar, akan menjadi program pikiran yang selanjutnya mengendalikan hidup seseorang.
Satu hal yang perlu kita mengerti yaitu bahwa semua, saya ulangi… semua, program pikiran adalah baik. Program pikiran selalu bertujuan membahagiakan kita. Program pikiran diciptakan atau tercipta demi kebaikan kita berdasarkan level kesadaran dan kebijaksanaan kita saat itu.
Program pikiran menjadi mental block apabila bersifat menghambat kita dalam mencapai impian atau tujuan kita. Sebaliknya program pikiran akan menjadi stepping block, batu lompatan, bila bersifat mendukung kita.
Anda jelas sekarang? Atau masih bingung?
Ok, saya kasih contoh ya biar lebih jelas.
Ini dari kasus klinis yang pernah saya tangani. Ada seorang wanita, sebut saja Rosa, cantik, ramah, cerdas, pintar cari uang, dan mandiri tapi sampai saat bertemu saya, usianya saat itu 35 tahun, masih jomblo alias single, belum dapat jodoh.
Rosa juga bingung mengapa ia sulit dapat jodoh. Ada banyak pria yang suka padanya. Namun setiap kali pacaran dan jika sudah masuk ke rencana untuk menikah, selalu muncul masalah sehingga hubungan mereka akhirnya putus.
Setelah dicari akar masalahnya, saya menemukan program pikiran, di pikiran bawah sadarnya, yang sangat baik namun justru bersifat menghambat dirinya untuk bisa dapat jodoh.
Apa itu?
Ternyata ayah Rosa meninggal saat ia masih kecil, usia 7 tahun. Sejak saat itu ibunya yang bekerja keras menghidupi keluarga mereka. Bahkan pernah sampai jatuh sakit dan hampir meninggal.
Nah, pas saat ibunya sakit keras,Rosa berdoa dan mohon kesembuhan untuk ibunya. Dan dalam doanya ia berjanji bahwa ia akan membalas semua pengorbanan ibunya, setelah ia dewasa kelak, dengan selalu menyayangi dan mendampingi ibunya.
Janji ini ternyata masuk ke pikiran bawah sadarnya dan menjadi program. Benar, sejak saat itu dan hingga ia dewasa Rosa adalah anak yang begitu sayang pada ibunya. Selama ini program pikirannya telah sangat membantu Rosa dalam menjalani hidupnya. Rosa bekerja keras, menjadi anak yang sangat mencintai ibunya. Dan ibunya juga begitu bersyukur dan bahagia karena mempunyai anak yang begitu menyayanginya. Nah, program yang sangat positif ini tiba-tiba berubah menjadi program yang menghambat (baca: mental block) saat Rosa ingin berkeluarga.
Program ini mensabotase setiap upaya Rosa untuk mendapat pasangan hidup. Saat saya berdialog dengan “bagian” (baca: program) yang tidak setuju bila Rosa menikah, saya mendapat jawaban yang jelas dan lugas. Ternyata “bagian” ini khawatir Rosa tidak bisa menepati janjinya, menyayangi dan mendampingi ibunya karena bila menikah, menurut pemikiran “bagian” ini, Rosa harus mengikuti suaminya dan meninggalkan ibunya sendiri. “Bagian” ini tidak setuju dengan hal ini.
Nah, anda jelas sekarang?
Saya beri satu contoh lagi biar lebih jelas.
Saya mendapat email dari seorang pembaca buku, sebut saja Bu Asri, yang mengeluh bahwa ia telah berusaha keras untuk menaikkan penghasilannya namun selalu gagal. Setelah membaca buku The Secret of Mindset dan mendengarkan CD Ego State Therapy ia menemukan program pikiran yang menghambat dirinya, khususnya di aspek finansial.
Ternyata dulu, saat akan menikah, ia mendapat wejangan dari ibunya, “Nak, ingat ya… nanti waktu menjadi seorang istri, cintai suamimu dengan tulus, baik di kala suka mapun duka, layani dengan sepenuh hati, tempatkan suami sebagai kepala rumah tangga, jaga perasaan dan harga diri suami, jangan melebihi suamimu…….”
Pembaca, wejangan (baca: program) ini tentu sangat baik. Namun menjadi masalah karena program ini justru menghambat upaya Bu Asri meningkatkan penghasilannya. Selidik punya selidik ternyata penghasilan Bu Asri saat ini sama dengan penghasilan suaminya. Makanya saat ia berusaha menaikkan income-nya selalu saja ada hambatan. Program ini yang menghambat dan tujuannya juga sangat “positif” yaitu agar Bu Asri bisa menjadi istri yang baik sesuai wejangan ibunya.
Bagaimana, jelas sekarang?
Suatu program, selama tidak bersifat menghambat diri kita maka jangan diotak-atik. Biarkan saja. Nggak usah bingung. Ada rekan yang, setelah membaca buku dan mengerti soal mental block, begitu giat mencari berbagai mental blocknya. Bahkan sampai mengeluh,”Pak, saya kok nggak menemukan mental block saya ya?”.
Lha, kalo memang nggak ada trus apa harus dipaksakan ada? Bukankah lebih baik bila waktu yang ada digunakan untuk belajar dan mengembangkan diri? Kekhawatiran karena tidak menemukan mental block justru bisa menjadi mental block baru.
Lalu, bagaimana sikap yang benar?
Ya, santai saja lah. Nggak usah aneh-aneh. Kita harus netral saja. Selama hidup kita happy, usaha lancar, semua berjalan seperti yang kita rencanakan dan harapkan maka nggak usah pusing soal mental block.
Mental block akan kita rasakan saat ada penolakan atau hambatan untuk mencapai suatu target yang lebih tinggi. Penolakan ini juga timbul saat kita ingin berubah.
Ini saya kutip email yang baru saya terima dari seorang pembaca buku saya:
“Saya ingin lebih memahami dan membaca buku-buku anda. Saya beli The Secret of Mindset. Saat baca ada aja perasaan yang membuat saya malas, ngantuk dsb. Padahal saya sungguh ingin membaca buku TSOM. Bagaimana solusinya?”
Perasaan malas, mengantuk, dan berbagai perasaan lain yang menghambat upaya untuk berubah ini adalah ulah nakal dari mental block kita. Nah, ini saatnya kita perlu menemukan dan mengenali mental block ini. Setelah ditemukan… ya dibereskan. Gitu aja kok repot.
Intinya, jika anda telah menetapkan target yang lebih tinggi, dari apa yang telah anda capai saat ini, dan anda merasa ada yang tidak enak di hati anda maka ini indikasi adanya mental block.
Atau jika anda mengalami kegagalan yang beruntun atau yang mempunyai pola kegagalan yang sama, maka ini indikasi sabotase diri alias mental block.
Mental block ini ada juga yang baik. Misalnya anda telah berkeluarga. Dan ada kesempatan untuk selingkuh namun anda tidak mau. Alasannya bisa macam-macam. Bisa takut dosa, takut masuk neraka, takut malu, takut ketahuan, bisa karena anda tidak ingin melukai hati pasangan anda, atau anda setia pada janji pernikahan anda, atau alasan apapun. Yang pasti, ada satu program pikiran yang menghambat anda melakukan sesuatu. Mental block ini tentunya perlu dipertahankan.
So… bersikaplah netral… jadilah orang yang Non Block. Artinya anda tidak neko-neko atau aneh-aneh. Cari mental block sesuai kebutuhan. Kalo sedikit-sedikit cari mental block … sedikit-sedikit cari mental block… maka saya khawatir anda akan menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan resource yang anda miliki untuk sesuatu yang tidak produktif. Kalo seperti ini…anda masuk kategori Go Block.
Rabu, 10 Agustus 2011
"Jangan biar diri kita hancur"
Suatu ketika, ada seorang sahabat memulai kotbahnya dengan mengeluarkan selembar uang seratus ribu yang baru. Kemudian dia bertanya "Siapa di antara kamu yang mau uang ini, jika diberikan ikhlas padamu?" Langsung saja yang mengangkat tangan banyak sekali.
Katanya lagi " Ya, ini akan saya berikan, tapi sebelumnya biar saya melakukan hal ini". Sahabat tersebut meremas uang kertas seratus ribu itu, menjadi gulungan kecil yang kumal.
Kemudian dia buka lagi ke bentuk semula : lembaran seratus ribu, tapi sudah kumal sekali. Lalu dia bertanya " Siapa yang masih mau uang ini?" Tetap saja banyak yang angkat tangan, sebanyak yang tadi.
"Oke, akan saya kasih, tapi biarkan saya melakukan hal ini". Dia menjatuhkan lembaran uang itu ke lantai, terus diinjak-injak pakai sepatunya yang habis berjalan di tanah becek sampai nggak karuan bentuknya. Dia tanya lagi" siapa yang masih mau?" Tangan-tangan masih saja terangkat. Masih sebanyak tadi.
"Nah, sahabatku, sebenarnya aku dan kau sudah mengambil satu nilai yang sangat berharga dari peristiwa tadi. Kita semua masih mau uang ini walau bentuknya sudah nggak karuan lagi. Sudah jelek, kotor, kumal... tapi nilainya nggak berkurang: tetap seratus ribu rupiah.
Sama seperti kita. Walau kau tengah jatuh, tertimpa tangga pula... tengah sakit, tengah hancur pula, atau kau gagal, nggak berdaya, terhimpit, dan merasa terhina, kecewa dan terkhianati, atau dalam keadaan apapun, kau tetap nggak kehilangan nilaimu... karena kau begitu berharga. Jangan biarkan kekecewaan, perasaan, ketakutan, sakit hati, menghancurkan kamu, harapanmu, atau cita-citamu."
"Kamu akan selalu tetap berharga, bagi dirimu, bagi diriku, bagi sahabatmu, bagi sahabat yang lain dan kau tetap sama dimata Tuhanmu. Dia, Tuhanmu, akan berlari mendekatimu, jika kau berjalan menuju-Nya. Aku pun sahabatmu akan melakukan hal yang sama, karena fithrah setiap diri kita akan mulia jika mencoba mendekati sifat2 Tuhan kita. Disanalah nilai dirimu berada."
Langganan:
Postingan (Atom)