warna-warni surabaya

warna-warni surabaya
semua ceritaku di surabaya

Jumat, 26 Agustus 2011

MERAIH CITA-CITA

                      
Sudah lama saya bercita-cita bahwa saya ingin mempunyai usaha, yang nantinya tujuan saya bisa menyerap Tenaga kerja dan mengurangi tingkat pengangguran di indonesia,, buzett.. keren banget yah... terkesan mustahil dan muluk" banget,,hahah emang sih lucu banget, tapi apa salahnya seseorang bermimpi . kata kang Albert Enstein sih, lebih untama mimpi dari pada keilmuan, gk tau tepat nya gimna tapi intinya mimpi adalah kunci untuk kita bisa melangkah lebih baik lagi, hehe kayak lagunya nidji aja. dari pada orang yang mempunyai banyak ilmu tapi bingung mau di buat apa, alias gk jelas n kurang bermanfaat. yang kedua saya ingin bercita-cita untuk menjadi pengajar atau GURU, tapi saya masih bingung mau ngajar apa yah..hoho yang jelas saya ingin berbagi buat sesama, biar ilmu berguna dan barokah,  itu sekilas cita" saya yang ingin saya gapai, kalau temen-teman apa???? apakah anda sudah mempunyai mimpi dan cita"..hemmmm kalau belum lebih baik buat deh sekarang, dari pada nanti jadi manusia GJP alias (manusia GAK JELAS PUOLLLL) mask gak tau apa yang dia ingin capai di kehidupan ini, katanya mau sukses tapi di tanyak suksesnya gimna bingungg,,, bingung kelaut ajak kalikk,,, minimal di tanyak apa cita" nya dek bisa jawab, dari pada di tanyak gk tau . hahah maluk"in banget kan tuh orang, gk ada prestasi gk ada cita" beranian bunuh diri aja, biar gk bnyak dosa, karena ngelakukin kegiatan gk jelas..hahah bercanda browww
Dikampus juga, saya di berikesempatan buat sedikit mengkordir di bidang enterpreneur, gk atau alasan apa ,saja di tunjuk aja, hmm yahh lumayan kaget bgrt, tapi bikin  tantangan aja buat diri sendri buat menjadi pembuktian kita, untuk berani mencoba hal baru, walau itu belum kita lakukin.
sana kemari berguru ilmu sampek semoedi di gunung kawi hehe, alhamdulilah banyak sekali pengalaman yang di dapet, tapi gk bikin cepet puas kareana masih ngerasa gomblok..banget
dengan kebulatan tekat, akhirnya saya memberanikan diri untuk menggapai cita"saya, yang pertama, mau jadi pengusaha sukses, yahhhh paling enggak langkah pertama bukak usah kecil"an dulu, buat beljar, dari pada perusahaan besar terus bangkrut. Lagian gk mungkin jugak bikin yang besar hahah..mana ada duit segitu brow..iya kalau boleh pinjem ke nazarudin heh bisa langsung bukak deh,,
 Alhamdulilah dengan keyakinan dan usaha tanggal 8 JULI kemaren saya dan temen2 bukak cafe/warung kecil di depan kampus UPN, yah lumayan lah bisa bikin usaha sendiri dari pada ikut orang,hmmmm ada kepuasan sendiri sih, walau pasti gk lepas dari banyak nya masalah..,,,
nh warung nya,,,terettttt tetttttt











hehe, walau masih kecil, tapi minimal lah bagi pemula, saya dan temen" punyak kebiasaan nungkrong atau cangkruk, tuh jadi peluang hebat jugak kalau kita bikin warung sendiri, nongkrong jugak dapet n hasilin duit pula,,hehe kita ada berlima buat galang dana nya, walau terkesan banyak orang tapi seru jugak.. biar bisa rame", walau masih banyak masalah lah yang kita hadapin tapi saya optimis kita bisa laluin bareng,
dan harapan saya lagi pengen nya, saya buka Ice cream juga karena kemren saya analisa pasar dengan sebarin kosenuer ke temen" 80% dari mahasiswa ternyata sukak dengan nama nya ice cream ,
tuh jadi peluang jugak buat saya.
hmm ternyata bikin usaha tuh modal penting nya jadi orang sensitif banget, bukan orang yang tersinggungan tapi sensitif dengan peluang" yang ada di deket kita,  kalau kita olah dengan analisa dan perecanaan yang matang pasti jadi hal yang besar, BERANI BOLEH tapi jangan di biasakin jadi orang NEKAT tapi bodoh, alias nekat tapi gk dipikir secara mateng, kerna sukses gk KEBETULAN bung, sukses tuh perjuangan pencarian,,hehe kok jadi orang suk ta nih.
             Selain bikin usah jugak saya rencana nya pengen kuliah lagi sih, pengen jadi pengajar nntk nya, dengan persiapan gk jarang saya belajar buat jadi pemateri di acara-acara di kmpus, buat pembelajaran, tapi gk pembelajaran yang hanya coba" low yah, tapi pembelajaran yang kita persiapkan untuk memberikan yang terbaik, bukan berarti coba" kita gk mau berusaha buat ngasik yang terbaik, walau agak mider di dpan umum,  apalagi jadi pengajar atau pemteri, MC atau apalah, kita harus hati" karena salah kata atau apa, hukum nya bisa jadi harom, misal kita ngasik ilmu salah terus sama temen" di terima mentah , nanti juga bisa terseseta , kita yang salah nantinya,,hmm seperti jadi imam gitu, salah jadi imam makmum jadi ikut salah, imam deh yang kenak dosanya,,ngajarin yang slah,, begindong,,heheeh

udah dari sini dulu curhatan saya yang panjang, nanti saya akan menlajutkan lagi perjalanan saya yang bisa saya bagi buat temen" mungkin saja bisa sedikt berguna buat temen" semua, misalnya ada kata atau kalimat yang salah mohon maaf kan saya masih pemula jugk, dan banyak keterbatasan, tapi bukan untuk mengurangi semangat saya untuk terus berkarya dan berbagi,,ok"
salam perubahan dan salam berdaya

Minggu, 21 Agustus 2011

Lima Kekuatan Untuk Optimalisasi Pengembangan Potensi Diri




Merdeka!! Tepat di hari Minggu, 17 Agustus 2008, hari kemerdekaan RI ke 63, saya diundang talkshow di Malang bersama Y.M. Uttamo Mahathera. Topik talkshow kali ini mengenai pengembangan potensi diri. Nah, ide menulis artikel ini muncul di tengah serunya acara tanya jawab yang dihadiri lebih dari 600 peserta.
Judul artikel ini mengatakan bahwa ada lima kekuatan yang bisa digunakan untuk mengembangkan potensi diri. Apakah lima kekuatan itu? Ini yang akan saya jelaskan secara urut di artikel ini.
Pertama, yaitu Kekuatan Keyakinan atau The Power of Belief. Mengapa harus dimulai dengan Kekuatan Keyakinan? Keyakinan adalah fondasi untuk melakukan apa saja. Kita baru akan bertindak bila kita merasa yakin mampu melakukan sesuatu. Jika tidak yakin maka upaya yang kita lakukan akan dikerjakan dengan setengah hati. Dan kita tahu, apapun yang dilakukan dengan setengah hati, tanpa kesungguhan, maka hasilnya pasti tidak akan pernah maksimal. Seringkali upaya kita, jika diawali dengan perasaan tidak yakin, akan berakhir dengan kegagalan.
Yakin pun ada syaratnya, tidak asal yakin. Yakin yang saya maksudkan di sini adalah yakin yang berlandaskan kebijaksanaan dan akal sehat. Tidak asal “yakin” dan “ngotot”.
Mengapa harus dilandasi kebijaksanaan?
Ya, karena yakin ini sebenarnya ada tiga macam. Pertama, yakin yang hanya bermain di level kognisi atau pikiran sadar. Kedua, yakin yang bermain pada level afeksi atau pikiran bawah sadar. Ada lagi yakin yang tipe ketiga yaitu yakin yang “ngaco” alias “ngawur”. Yakin tipe ini adalah yakin yang berlebihan atau overconfident tapi tidak ekologis.
Yakin tipe ketiga ini sangat berbahaya. Ini ada satu cerita nyata. Kawan saya pernah bercerita bahwa ada seorang kawannya, sebut saja Bu Yuni, yang setelah mengikuti suatu pelatihan motivasi, menjadi begitu semangat dan menjadi sangat-sangat yakin bahwa ia akan bisa sukses dalam waktu yang sangat singkat dan mudah.
Sepulang dari pelatihan itu Bu Yuni dengan “haqul yaqin” (sangat yakin) memutuskan bahwa ia dalam waktu maksimal 3 (tiga) bulan akan menjadi orang kaya dan akan berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp. 3 Miliar. Benar, anda tidak salah baca, 3 bulan untuk Rp. 3 miliar. Ck.. ck… ck… sungguh dahsyat sekali.
Kekuatan kedua untuk mengembangkan potensi diri adalah dengan Kekuatan Semangat atau The Power of Enthusiasm. Yang menjadi komponen atau bagian dari Kekuatan Semangat adalah konsistensi, persistensi, kegigihan, atau whatever it takes.
Tindakan yang dilandasi dengan suatu keyakinan yang teguh, bahwa kita pasti bisa berhasil, pasti akan dilakukan dengan penuh semangat. Semangat ini sebenarnya adalah motivasi intrinsik atau dorongan bertindak yang berasal dari dalam diri kita. Kekuatan Semangat ini yang membuat seseorang akan terus mencoba walaupun telah gagal berkali-kali. Kekuatan Semangat ini yang mendasari peribahasa “Tidak ada yang namanya kegagalan. Yang ada hanyalah hasil yang tidak seperti yang kita inginkan”, “Winners never quit. Quitters never win”, “Tidak penting berapa kali anda jatuh, yang penting adalah berapa kali anda bangkit setelah anda jatuh.”
Kekuatan Semangat ini yang menjadi pendorong Thomas Edison untuk terus mencoba walaupun ia telah berkali-kali “belum berhasil” menemukan bahan yang sesuai untuk membuat bola lampu listrik. Kekuatan Semangat ini pula yang mendorong Harland Sanders untuk terus menawarkan resep ayam gorengnya yang istimewa Kentucky Fried Chicken, walaupun ia telah ditolak berkali-kali.
Nah, bagaimana dengan kisah Bu Yuni? Saya lanjutkan ya ceritanya.
Bu Yuni, dengan bekal keyakinan yang “pasti” dan “kuat” memutuskan untuk menjalankan suatu usaha yang akan menjadi kendaraannya untuk mengumpulkan Rp. 3 miliar dalam waktu 3 bulan. Bu Yuni bekerja dengan sungguh serius.
Kekuatan ketiga adalah Kekuatan Fokus atau The Power of Focus.  Fokus berarti kita hanya melakukan hal-hal yang memang berhubungan dengan target yang ingin kita capai. Pikiran kita menjadi sangat tajam, terpusat, seperti sinar laser yang siap untuk menembus berbagai penghalang. Kita tidak akan membiarkan berbagai cobaan atau distraksi membuat pikiran atau kegiatan kita menyimpang dari tujuan semula.
Saat Kekuatan Fokus bekerja kita akan sangat memperhatikan hal-hal detil dalam upaya mencapai keberhasilan. Kekuatan Fokus ini yang mendorong kita untuk menghasilkan master piece.
Sekarang saya lanjut lagi cerita tentang Bu Yuni. Apakah Bu Yuni fokus? Oh, sangat fokus. Begitu fokusnya sehingga ia bisa melihat banyak sekali peluang di sekitar dirinya. Bu Yuni mengajak kawannya kerjasama. Ia bahkan bersedia menanamkan modal yang cukup besar untuk mengembangkan bisnis kawannya karena ia yakin bisnis ini bisa memberikan sangat banyak uang dalam waktu yang singkat. Bahkan saat kawannya, yang selama ini telah menggeluti bisnis itu, mengatakan bahwa tidak mungkin bisa secepat itu perkembangan bisnisnya, walaupun mendapat suntikan dana besar, Bu Yuni tetap yakin, semangat, dan fokus berkata, “Ah, yang penting yakin. Kalau yakin maka segala sesuatu mungkin terjadi.”
Kekuatan keempat adalah Kekuatan Kedamaian Pikiran atau The Power of Peace of Mind. Kekuatan keempat ini sangat penting diperhatikan karena ini merupakan barometer untuk menentukan apakah keyakinan kita terhadap sesuatu itu ekologis atau tidak.
Saat kita yakin, semangat, dan fokus melakukan sesuatu maka kita perlu memeriksa apakah kita merasakan ketenangan baik di pikiran maupun di hati. Jika jawabannya “Tidak” maka kita perlu memeriksa ulang keyakinan kita.
Kita perlu memeriksa apakah keyakinan kita itu sudah benar-benar yakin ataukah lebih karena dorong emosi tertentu, misalnya emosi takut atau keserakahan.
Pada kasus Bu Yuni, ternyata ia sama sekali tidak merasakan kedamaian. Hal ini tampak dalam kehidupannya. Bu Yuni, dalam upaya mencapai targetnya, ternyata tidak mendapat dukungan dari suaminya. Bu Yuni tetap memaksakan kehendaknya. Ia bersikeras bahwa dengan keyakinannya yang pasti ia akan dapat mencapai apapun yang ia inginkan.
Apa yang terjadi? Bu Yuni sering ribut dengan suaminya dan selalu tampak murung dan stress.
Bila keyakinan kita bersifat ekologis, didasari dengan pikiran yang benar dan kebijaksanaan, maka saat kita bekerja keras dan giat untuk mencapai impian-impian kita, pikiran dan hati kita akan tetap merasa tenang, damai, dan bahagia. Ini adalah satu aspek penting yang jarang sekali diperhatikan oleh kebanyakan orang.
Perasaan tenang, damai, dan bahagia merupakan indikasi bahwa apa yang kita lakukan benar-benar kita yakini akan berhasil. Kita hanya tinggal melakukan kerjanya saja dan sukses sudah pasti akan kita dapatkan. Sukses hanyalah efek samping yang pasti akan terjadi.
Kekuatan kelima adalah Kekuatan Kebijaksanaan atau The Power of Wisdom. Kekuatan ini sangat penting karena digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap apa yang telah kita lakukan pada empat langkah pertama.
Dengan menggunakan kebijaksanaan kita dapat melakukan evaluasi dengan baik, benar,akurat, dan tanpa melibatkan emosi. Jika hasil yang dicapai belum seperti yang kita inginkan maka dengan menggunakan kebijaksanaan kita dapat mengetahui permasalahannya dan dapat meningkatkan diri kita.
Jika hasilnya sudah seperti yang kita inginkan maka, dengan menggunakan kebijaksanaan, kita dapat mempertahankan dan meningkatkan pencapaian itu.
Kebijaksanaan juga digunakan untuk memeriksa keyakinan atau kepercayaan yang menjadi langkah awal tindakan untuk mencapai goal. Dengan bijaksana kita dapat memeriksa keabsahan keyakinan kita. Apakah kita sudah benar-benar yakin secara benar ataukah kita sebenarnya tidak yakin tapi memaksa diri yakin karena kita takut?
Bu Yuni ternyata tidak menggunakan Kekuatan Keyakinan dalam mengejar impiannya. Setelah mendengar penjelasan kawan saya secara cukup detil saya akhirnya menyimpulkan bahwa Bu Yuni ini sebenarnya tidak yakin namun ia memaksakan kehendak, tanpa mempertimbangkan kondisi riil yang sedang ia alami, untuk bisa sukses.
Ternyata emosi yang mendorong Bu Yuni untuk “Yakin” adalah ketakutannya akan masa depan. Ia, setelah menghadiri seminar motivasi, menjadi “sangat yakin” dengan apa yang diajarkan oleh si pembicara dan akhirnya menjadi “buta” oleh emosinya sendiri.
Hal ini diperkuat lagi saat Bu Yuni mendapat peneguhan dari mentornya, pembicara tadi, yang mengatakan, “Pokoknya, kalo kamu yakin, maka kamu bisa mencapai apapun yang anda inginkan.”
Pembaca, belief seperti ini, yang menggunakan kata-kata “pokoknya”, yang saya kategorikan sebagai “belief” yang perlu diwaspadai. Belief ini seringkali tidak membumi dan menyesatkan.
Bila kita menggunakan lima kekuatan yang telah saya jelaskan dalam artikel ini maka dengan bekal yakin, semangat, fokus, damai, dan bijaksana niscaya kita akan dapat mengembangkan potensi diri secara optimal

Mengenal Suara Hati Yang Sesungguhnya



Di salah satu seminar saya mendapat pertanyaan yang membuat saya merenung cukup lama, “Pak, apa sih sebenarnya suara hati itu? Apakah suara hati selalu baik untuk kita? Apa suara hati harus selalu kita ikuti? Apa parameter yang digunakan sehingga kita tahu bahwa yang kita “dengar” adalah benar-benar suara hati nurani kita dan bukan “suara” yang lain?”
Karena keterbatasan waktu saya hanya bisa memberikan jawaban singkat. Namun pertanyaan ini terus bermain di benak saya seolah-olah berkata, “Hei, jawaban yang tadi kamu berikan ke peserta itu belum tuntas. Ayo dong… mikir yang lebih keras. Masa jawabannya hanya seperti itu.”
Nah, malam hari sebelum tidur saya mulai berpikir dan berpikir. Hasil pemikiran saya cross-check dengan beberapa literatur yang pernah saya baca sebelumnya. Setelah itu saya bandingkan dengan berbagai pengalaman hidup yang telah saya alami. Nah, dalam kesempatan ini ijinkan saya untuk bebagi pengalaman dan pemahaman saya yang mengkristal dalam bentuk jawaban atas pertanyaan di atas.
Di buku Hypnotherapy : The Art of Subconscious Restructuring saya menjelaskan mengenai salah satu teknik terapi yang dikenal dengan nama Ego State Therapy atau ada juga yang menyebutnya sebagai Parts Therapy.
Inti dari teknik ini adalah kita berkomunikasi dengan “Bagian” (Ego State atau Parts) dari diri kita yang selama ini menghambat kemajuan kita. Teknik ini sangat efektif untuk menyelesaikan konflik diri (inner conflict).
Bagi terapis yang telah menjalani pelatihan intensif dan mengerti betul teorinya maka akan sangat mudah melakukan teknik ini. Namun bagaimana dengan orang yang tidak mendapat pelatihan ini?
Parts / Ego State
Sebelum saya meneruskan uraian ijinkan saya untuk sedikit membahas mengenai Parts atau Ego State. Ada juga yang menyebutnya sebagai Sub Personality. Untuk mudahnya saya akan menggunakan istilah “Bagian”.
Di dalam diri kita ada banyak “Bagian”. Setiap bagian ini menyerupai “seseorang” dengan kepribadian, karakter, memori, rule, belief, value, dan tujuan masing-masing. Saat mereka bekerja secara harmonis, saat hubungan sesama “Bagian” ini baik maka hidup kita akan sangat lancar. Namun saat ada di antara mereka yang konflik, dan biasanya ini bisa melibatkan lebih dari 2 “Bagian”, maka kita mengalami konflik diri.
Cara “Bagian” ini berkomunikasi dengan kita biasanya dengan menggunakan perasaan dan self talk atau inner dialogue/voice. Apakah hanya dengan dua cara ini saja? Oh tidak. Masih ada cara lain yang jarang atau tidak kita sadari, walaupun sebenarnya kita telah mengalaminya. Nanti di bagian akhir artikel ini akan saya membahas secara lebih mendalam. Untuk saat ini kita fokus pada self talk dan perasaan.
Saat paling mudah untuk mengamati “Bagian” ini saling berkomunikasi adalah saat kita baru bangun tidur. Biasanya ada 2 “Bagian” yang saling berbicara. Satu “Bagian” mau kita segera bangun. Dan satu “Bagian” lagi ingin kita tetap berbaring dan tidur lebih lama lagi. Masing-masing “Bagian” memberikan argumentasi masing-masing. Yang umumnya terjadi seperti ini:
Bagian 1 : Hei.. bangun. Sudah siang nih. Sudah waktunya masuk kerja.
Bagian 2 : Nggak usah bangun dulu. Santai aja kenapa sih. Kan tadi malam dia tidurnya malam sekali. Jadi dia butuh waktu sedikit lagi untuk istirahat.
Bagian 1: Lho, kalau nggak bangun sekarang nanti terlambat masuk kantor. Bos bisa marah besar. Kan dia ada janji sama pelanggannya.
Bagian 2 : Ala… lima menit saja kenapa sih. Nggak bisa lihat orang senang ya?
Nah pembaca anda pernah kan mengalami self talk seperti ini? Saat 2 “Bagian” ini saling beradu argumentasi kita hanya menjadi pengamat. Sampai satu saat kita memutuskan untuk mengikuti salah satu “saran” yang diberikan. Kita bangun… atau terus tidur. Masing-masing “Bagian” punya “kepentingan” sendiri yang mereka pikir baik untuk kita. Mana yang benar-benar baik? Ini membutuhkan kejelian kita untuk menganalisa.
Berguru Pada Hingar Bingar Keheningan
Pembaca, mengapa saat mau bangun tidur kita mudah sekali mengamati self talk kita? Mengapa saat baru bangun tidur kita dapat dengan sangat mudah, bahkan tanpa perlu upaya, bisa mengikuti dialog internal yang terjadi di dalam diri kita? Mengapa kalau sudah bangun dan mulai aktif menjalani hari kita malah sulit sekali mendengar suara itu?
Jawabannya sebenarnya sangat mudah. Saat kita baru bangun tidur pikiran kita masih tenang. Saat itu kita masih “hening”. Belum banyak hal, buah pikir, masalah, atau thought yang kita pikirkan. Dengan demikian pikiran kita masih tenang dan hening. Setenang air di danau saat pagi hari. Kalau sudah siang, saat air (baca: pikiran) sudah bergejolak dan banyak riak maka kita akan sangat sulit untuk bisa melihat ke dalam atau dasar danau.
Nah, justru saat pikiran berada dalam kondisi tenang atau hening kita justru akan “mendengar” hingar bingar yang selama ini tidak kita dengar. Justu saat pikiran hening kita bisa belajar dengan melakukan pengamatan terhadap dialog internal yang terjadi, tanpa perlu melibatkan diri di dalam dialog itu. Kita hanya akan melibatkan diri bila dirasa perlu dan untuk tujuan tertentu.
Membedakan Suara Hati Nurani dan Suara Ego Yang Sakit
Sebelum menulis bagian ini saya teringat satu klien yang pernah saya tangani. Saat itu saya berdialog dengan 4 (empat) “Bagian” dari diri klien. Klien ini mengalami kecemasan yang sangat tinggi dan sudah delapan tahun lebih berobat ke luar negeri.
Setiap satu setengah bulan sekali ia harus menemui dokter di rumah sakit, di luar negeri, mendapat injeksi obat tertentu dan sekaligus membeli tambahan obat yang harus ia minum secara rutin. Begitu tingginya kecemasannya sampai si klien, selama delapan tahun terakhir, setiap hari mendengar berbagai suara.
Suara ini memberikan perintah yang aneh-aneh, bahkan yang merugikan dan membahayakan hidup klien. Ada suara yang memberikan perintah yang seakan-akan demi kebaikan dan kebahagian klien namun bila dianalisa secara hati-hati, membandingkannya dengan sifat suara Hati Nurani yang saya jelaskan di bawah, ternyata sangat bertolak belakang.
Dalam kesempatan ini saya tidak akan membahas mengenai klien ini. Yang ingin saya sampaikan adalah bagaimana kita, sebagai orang biasa, bisa mengenali dan membedakan suara yang sungguh-sungguh berasal dari Hati Nurani dan suara yang berasal dari “Bagian” atau Ego yang sakit.
Saya percaya bahwa Hati Nurani setiap manusia bersifat bersih dan tulus. Hati Nurani ini adalah selalu baik adanya. Ada rekan saya yang mengatakan bahwa Hati Nurani mewakili sifat-sifat Illahi di dalam diri manusia. Dan masih menurut kawan saya ini, saat seseorang berdoa kepada Tuhan maka jawaban dari Tuhan datang melalui suara Hati Nurani.
Nah, berangkat dari pemahaman ini maka saya menyimpulkan bahwa suara Hati Nurani pasti mempunyai sifat-sifat berikut:
•Berdasarkan cinta kasih yang tulus tanpa pamrih
•Selalu ingin yang terbaik untuk diri kita
•Berlandaskan nilai-nilai Kebenaran Universal
•Jujur, tulus, dan apa adanya, walau kadang terasa menyakitkan perasaan kita.
•Menghargai diri kita dan juga orang lain
•Penuh kelembutan dan ketenangan namun sangat kuat
•Penuh pengertian dan toleransi
•Memberikan perspektif atau pemahaman baru terhadap suatu kejadian atau peristiwa sehingga meningkatkan level kesadaran kita.
Memahami Komunikasi Suara Hati Nurani
Banyak orang yang telah mengalami, tidak hanya mendengar, suara hati namun mereka tidak menyadarinya. Mengapa mereka tidak menyadarinya? Karena mereka tidak mengerti cara Hati Nurani berkomunikasi.
Nah, bagaimana sih bentuk komunikasi yang biasa digunakan oleh Hati Nurani?
Ada beberapa cara. Pertama, seperti yang telah saya jelaskan di awal artikel ini yaitu dengan menggunakan self talk atau inner dialogue. Saat pikiran hening kita bisa mendengar suara Hati Nurani dengan jelas. Kita bahkan bisa berdialog dengan Hati Nurani.
Kedua, melalui perasaan atau yang sering disebut sebagai gut feeling. Seringkali saat akan melakukan sesuatu ada perasaan tertentu yang memberikan sinyal apakah kita bisa terus atau harus berhenti. Nah, perasaan atau gut feeling ini sebenarnya juga bentuk komunikasi dari Hati Nurani kepada kita.
Jika anda cukup tanggap, seringkali perasaan ini memberikan sinyal yang cukup jelas. Saat anda mengabaikan perasaan ini, misalnya saat anda ingin melakukan sesuatu tiba-tiba muncul perasaan yang meminta anda untuk tidak melakukannya, dan anda tetap melakukan yang anda inginkan ternyata hasilnya justru sangat merugikan diri anda.
Nah, saat itu anda berkata, “Coba tadi saya mengikuti suara hati saya. Pasti nggak akan mengalami kerugian seperti ini.”
Ada banyak contoh kasus mengenai gut feeling. Seorang klien pernah bercerita mengenai hal ini kepada saya. Saat hendak memulai satu bisnis dengan kawan dekatnya ia mendapat gut feeling yang mengatakan bahwa ia tidak boleh melakukan kerja sama ini. Gut feeling-nya mendapat dukungan dari gut feeling istrinya yang juga kurang setuju dengan rencananya. Tapi tetap ia abaikan.
Apa yang terjadi?
Bisnis yang semula berjalan baik akhirnya harus dihentikan karena mereka berbeda visi dan misi. Pada awalnya klien saya merasa ia dan kawannya sudah benar-benar sehati, satu visi, satu misi, dan satu nilai. Namun ternyata setelah bisnis semakin berkembang tampak jelas perbedaannya. Yang satu tetap fokus pada tujuan semula, yang satu lagi hanya fokus pada uang dan uang. Sehingga keputusan yang dibuat seringkali tidak sesuai dengan tujuan semula.
Ketiga, melalui ide yang bersifat menginspirasi. Saya yakin anda pasti pernah mengalami saat berdoa meminta petunjuk dari Tuhan, eh.. tanpa disangka-sangka muncul satu ide kreatif yang menginspirasi anda melakukan sesuatu. Ternyata saat anda melaksanakan ide ini masalah anda selesai. Jadi, ide ini adalah jawaban yang anda butuhkan.
Ide ini bisa muncul tiba-tiba, bisa juga muncul setelah dipicu oleh faktor lain. Faktor lain ini bisa berupa informasi dari buku yang sedang anda baca, bisa dari televisi, bisa saat mendengar kisah orang lain, bisa dari mana saja. Tapi intinya, kita mendapat jawaban dalam bentuk ide.
Keempat, pergeseran persepsi. Yang dimaksud dengan pergeseran persepsi ini begini. Misalnya ada seseorang, katakanlah salah satu saudara kita, yang telah kita bantu dengan tulus, saat ia mengalami kesulitan hidup, kita beri kepercayaan dan kesempatan untuk berkembang, ternyata setelah ia agak “kuat”, ia menghianati kepercayaan kita.
Bagaimana perasaan kita? Ya, sudah tentu marah dan kecewa. Namun seiring berjalannya waktu perasaan kita berubah. Dari yang tadinya marah, kecewa, sakit hati, jengkel, dendam, dan berbagai emosi negatif lainnya, kita kini malah merasa kasihan dan prihatin dengan saudara kita ini.
Mengapa berubah dari sakit hati menjadi kasihan dan prihatin?
Karena pemahaman kita semakin berkembang, semakin bijaksana, mendapat insight yang mengakibatkan terjadinya peningkatan level kesadaran.
Kita kasihan dan prihatin bahwa saudara kita ini akan mengalami banyak kesulitan hidup bila ia tidak menyadari bahwa apa yang ia lakukan itu adalah hal yang salah dan justru akan sangat merugikan dirinya di masa mendatang.
Kita kasihan dan prihatin karena bisa saja sebenarnya saudara kita ini tidak menyadari apa yang ia lakukan. Bisa jadi ini adalah salah satu bentuk sabotase diri yang sangat halus yang tidak disadari oleh saudara kita. Kemarahan dan kekecewaan sekarang telah berganti dengan perasaan prihatin, kasihan, dan bahkan perasaan sayang ingin membantu saudara kita ini.
Kelima, melalui kebetulan yang tidak kebetulan. Seringkali kita mengalami suatu kejadian, yang kita rasa suatu kebetulan, yang sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, bukan kebetulan, maka disebutlah dengan kebetulan yang tidak kebetulan, yang kebetulan membuat anda bingung. Nah, kebetulan ini sebenarnya bentuk komunikasi Hati Nurani dengan kita. Namun seringkali kita mengabaikannya.
Ada satu contoh nih. Seorang pria ingin membayar lunas hutangnya sebelum ia pindah kerja ke kota lain. Bosnya tahu rencana ia pindah kota. Akibatnya malah bosnya mempercepat proses “berhenti” kerja sehingga pria ini tidak punya penghasilan untuk membayar utangnya.
Pria ini marah sekali pada bosnya. Ia merasa bosnya telah menghancurkan hidupnya. Pria ini juga berdoa agar bisa mendapat bantuan keluar dari kesulitannya ini. Saat ia membuka kitab sucinya, eh.. tiba-tiba matanya terpaku pada ayat yang berbunyi, “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang ………………….”.
Pria ini memutuskan untuk memaafkan mantan bosnya dengan tulus. Ia malah mendoakan agar usaha mantan bosnya ini bisa semakin maju dan berkembang.
Apa yang terjadi kemudian?
Di hari yang sama ada seorang famili yang mampir ke rumahnya dan menyerahkan amplop berisi uang. Jumlahnya persis sama seperti yang ia butuhkan untuk melunasi utangnya.
Saat ditanya mengapa familinya kok menyerahkan uang kepadanya, ia mendapat jawaban yang justru lebih aneh lagi, “ Minggu lalu ada dorongan di hati saya untuk melihat kembali perhitungan keuntungan yang kita dapatkan saat mengerjakan proyek beberapa waktu lalu. Nah, tiba-tiba saya lihat ada kesalahan perhitungan. Setelah saya hitung ulang maka kamu seharusnya dapat lebih. Saya sudah mau ke rumahmu. Tapi selalu saja repot nggak bisa. Baru hari ini saya ada waktu luang. Inipun setelah ada satu janji yang dibatalkan secara mendadak oleh si customer.”
Pria ini langsung teringat bahwa benar ia mulai berdoa mohon bantuan sejak minggu lalu. Rupanya kemarahannya ini yang membuat “bantuan” yang ia butuhkan tidak kunjung tiba. Dan setelah ia memaafkan mantan bosnya, eh.. tiba-tiba bantuan datang.
Apakah ini kebetulan? Tentu tidak.
Keenam, melalui mimpi. Seringkali saat kita sangat membutuhkan jawaban untuk mengatasi masalah yang sedang kita hadapi, setelah kita cari ke mana-mana tetap nggak dapat jawabannya, eh.. saat tidur kita mendapat mimpi yang merupakan jawaban atas pertanyaan kita. Anda pernah mengalaminya?
Nah, pembaca, setelah membaca sejauh ini, saya berharap anda sekarang bisa lebih jelas mengenai suara Hati Nurani. Apapun “jawaban” yang anda dapatkan harus anda cross check dengan sifat-sifat Hati Nurani yang saya jelaskan di atas.
Pada kasus klien saya, ia berkata bahwa suara hatinya mengatakan bahwa sebaiknya ia mati. Suara hatinya mengatakan bahwa ia tidak akan bisa bahagia hidup di dunia ini.
Nah, ini benar-benar suara Hati Nurani atau suara Ego yang sakit?
by :http://adiwgunawan.com/awg.php?co=p5&mode=detil&ID=189

BERKOMUNIKASI DENGAN DIRI KITA

Cara Mudah Berbicara Dengan Part atau Bagian Diri


Sejak buku The Secret of Mindset beredar, khususnya edisi hardcover yang ada bonus CD Ego State Therapy, saya mendapat banyak respon mengenai pengalaman pembaca buku yang menggunakan CD ini untuk berdialog dengan diri sendiri.
Ada yang dengan mudah bisa langsung berbicara dengan Part atau Ego State mereka. Ada yang kadang bisa kadang nggak, sepertinya si Part ini agak “nakal”. Ada juga yang sudah mencoba berkali-kali tapi tetap belum bisa berkomunikasi dengan Part mereka.
Mengapa berbicara dengan Part ini gampang-gampang susah?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang sulit berkomunikasi dengan Part:
1. Perasaan Takut
Yang paling utama adalah perasaan takut karena berpikir bahwa yang ia ajak bicara adalah suatu entitas atau”makhluk” yang masuk ke dalam dirinya, seperti orang yang kerasukan. Padahal pandangan ini sungguh tidak tepat dan tidak berdasar.
Jika perasaan takut dan tidak nyaman ini muncul sebelum berbicara dengan Part maka bisa dipastikan tidak akan terjadi dialog sama sekali.  Mengapa? Karena perasaan takut ini mem-block atau menghambat proses komunikasi.
Apa sih sebenarnya Part ini?
Part atau Ego State adalah Bagian dari diri kita. Bagian ini paling mudah diamati atau disadari kegiatannya saat kita baru bangun tidur. Biasanya akan ada dua Bagian Diri yang berdialog. Satu Bagian mau kita segera bangun.Satu Bagian lagi mau kita tetap santai berbaring lima menit lagi.
Dialog antar Bagian juga bisa dirasakan atau diamati saat kita hendak memutuskan sesuatu. Biasanya minimal akan ada dua Bagian yang saling berkomunikasi dan mengajukan argumentasi mereka masing-masing.
Jadi, anda jelas sekarang bahwa Part ini sebenarnya tidak lebih dari program pikiran yang ada di pikiran bawah sadar. Part beroperasi dengan pemikiran, memori, preferensi, logika berpikir, paradigma, keyakinan, nilai hidup, belief, sikap, perilaku, dan kebiasaan mereka yang unik.
2. Pikiran Kurang Rileks
Yang membuat pikiran sulit rileks adalah adanya perasaan takut. Alasan lainnya teknik rileksasi yang digunakan tidak tepat karena tidak sesuai dengan tipe sugestibilitas. Yang sulit berdialog dengan Part biasanya mereka yang (sangat) analitikal. Untuk mengatasi hal ini maka pikiran perlu dibuat rileks.
Mengapa pikiran perlu rileks?
Ceritanya begini. Biar mudahnya saya akan menggunakan analogi laut dan ikan paus. Ikan paus menghabiskan 90% waktunya di dalam air. Jadi mereka jarang sekali muncul ke permukaan. Kalaupun naik ke permukaan mereka hanya menyeburkan udara kotor dan menghirup udara segar. Setelah itu masuk lagi ke dalam laut.
Kita akan tahu ada ikan paus naik ke permukaan dari semburan air yang muncrat tinggi ke udara. Dari kejauhan kita tetap bisa melihat semburan ini. Tapi dengan satu syarat yaitu semburan hanya bisa dilihat bila laut dalam kondisi tenang. Namun bila saat itu laut sedang bergolak, ada gelombang besar, dan petir menyambar, atau bahkan badai, maka akan sangat sulit melihat semburan air yang dikeluarkan ikan paus.
Ikan paus ini sama dengan informasi yang berasal dari pikiran bawah sadar (theta) dan nirsadar (delta). Permukaan laut sama dengan beta. Bila beta sangat aktif maka pikiran bergolak. Bila saat pikiran bergolak dan ada banyak buah pikir (thought) atau bentuk-bentuk pikiran yang muncul dan tenggelam dengan cepat, dan misalnya pada saat itu ada informasi dari pikiran bawah sadar/nirsadar yang naik ke permukaan maka akan sulit dikenali. Namun bila pikiran kita tenang, beta kita rileks, maka kita bisa dengan mudah mengenali informasi yang muncul ke “permukaan”.
Lalu, apa sih sebenarnya yang terjadi saat kita berdialog dengan Part?
Saat berdialog maka kita mengajukan pertanyaan yang sangat spesifik, ini adalah aktivitas gelombang beta, dan pertanyaan ini selanjutnya turun dari beta melalui alfa, jembatan ke bawah sadar, masuk ke theta atau delta, dan dari sini akan ada jawaban yang muncul, dan melalui proses yang sama, naik ke alfa, terus ke beta, dan kita mendapatkan jawaban.
3. Pertanyaan yang Diajukan Tidak Spesifik
Banyak orang membuat kesalahan dengan mengajukan pertanyaan yang tidak spesifik, misalnya, “Mengapa saya kok belum sukses?”
Bila dilihat sepintas pertanyaan ini sepertinya sudah benar. Namun pikiran bawah sadar akan bingung. Mengapa? Karena sukses yang dimaksud di aspek yang mana? Apakah di aspek spiritual, finansial, relasi, emosi, fisik, mental, materi, atau apa?
Kalau pertanyaannya tidak spesifik maka akan ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, kita tidak akan mendapat jawaban. Kedua, jawaban muncul tapi tidak seperti yang kita harapkan.
Berbicara dengan Part sama dengan kita menghubungi satu perusahaan besar. Saat telpon masuk ke operator maka kita harus spesifik minta disambungkan ke divisi (Bagian) mana. Jika tidak maka kita bisa salah dihubungkan dengan Bagian yang tidak ada kepentingannya dengan keperluan kita. Dan saat sudah tersambung ke Bagian itu kita perlu mengajukan pertanyaan yang spesifik agar juga mendapat jawaban yang spesifik seperti yang kita inginkan atau butuhkan.
4. Berharap Mendengar Suara Bisikan
Pemahaman keliru ini yang sering dipegang banyak orang. Mereka berpikir bahwa berbicara dengan Bagian sama seperti mendengar ada suara yang dibisikkan ke telinga mereka. Jadi saat mereka mengajukan pertanyaan, mereka berharap jawabannya muncul dalam suara yang didengar oleh telinga mereka seperti kalau berbicara dengan seseorang.
Part berkomunikasi bukan dengan cara seperti ini. Part berbicara dengan menggunakan self-talk atau internal dialog. Suara ini “didengar” dari dalam, bukan dari luar. Ada yang menyebutnya dengan suara hati.
5. Merasa Gagal Karena Tidak Bisa Melihat Part
Ada juga yang merasa tidak bisa berkomunikasi dengan Part karena merasa tidak bisa melihat Part ini. Sebenarnya kita tidak harus atau perlu melihat Part. Kita bisa menggunakan “pendengaran dalam” atau perasaan kita. Jadi, tidak harus melihat wujud Part.
Bagi yang visual maka Part bisa muncul dalam bentuk tertentu. Namun bagi yang auditori maka cukup hanya mendengar Part bicara. Kalau yang kinestetik, gunakan perasaan untuk mengerti apa yang disampaikan Part.
6. Terlalu Berharap Bisa Berkomunikasi Dengan Part
Sikap yang terlalu berharap untuk  bisa berbicara dengan Part justru akan menghambat proses komunikasi. Saat kita sangat ingin maka saat itu pula pikiran sadar kita sangat aktif. Hal ini berarti beta kita akan sangat tinggi. Dalam kondisi ini komunikasi dengan Part pasti sulit dilaksanakan.
7. Niat Kurang Kuat
Ini juga salah satu penyebab sulitnya komunikasi dengan Part. Saat kita kurang niat atau tidak serius maka pikiran bawah sadar tidak akan melayani permintaan kita untuk berkomunikasi dengan Part. Niat ini berfungsi sebagai drive untuk mendorong pertanyaan kita turun dari pikiran sadar ke pikiran bawah sadar dengan cepat dan efektif.
Sebelum berkomunikasi kita perlu meniatkan untuk bertemu dengan Part ini. Anda perlu spesifik sekali. Part yang mana yang ingin anda ajak berkomunikasi.
8. Memang Tidak Ada Masalah
Seringkali orang berpikir mereka punya masalah, padahal sebenarnya tidak. Jika ini yang terjadi maka saat kita hendak berkomunikasi dengan Part maka sudah tentu tidak ada komunikasi. Lha, memang nggak ada masalah kok cari-cari masalah? Mengapa harus memaksa ada jawaban padahal tidak ada jawaban itu sebenarnya adalah jawaban yang sesungguhnya?
Lalu, bagaimana caranya untuk berkomunikasi dengan Part?
Ada tiga cara untuk berkomunikasi. Pertama, anda hanya menggunakan modalitas auditori atau suara. Caranya sebenarnya sangat mudah. Coba tutup mata sejenak. Dan dalam kondisi ini bertanyalah kepada diri sendiri, cukup bertanya di dalam hati, “Siapa nama lengkap saya?”, dan nantikan jawabannya. Saat anda mendapat jawaban maka sebenarnya anda telah bisa berkomunikasi dengan Part anda.
Coba tanyakan lagi beberapa hal kepada diri anda sendiri dan nantikan jawabannya. Dengan anda mengenali cara Part anda berkomunikasi, bisa merasakan atau “mendengar” suara Part, maka selanjutnya anda bisa melakukan proses yang sama namun dengan mengajukan pertanyaan lain yang berhubungan dengan masalah anda.
Cara kedua adalah dengan membayangkan Part ini keluar dari tubuh anda, tentunya anda membayangkan atau melakukan visualisasi, Part berada di depan anda, dan selanjutnya anda bertanya kepadanya. Dalam hal ini anda menggunakan dua modalitas sekaligus yaitu visual dan auditori. Anda melihat bentuk Part dan mendengar jawabannya.
Cara ketiga adalah dengan hanya menggunakan perasaan. Saat anda bertanya kepada Part, tidak harus muncul gambar, tidak harus ada suara yang terdengar, yang penting rasakan “jawaban” dari Part. Cara ini sangat efektif digunakan oleh orang kinestetik.
Nah, kalau sudah mahir melakukan komunikasi dengan Part maka kita tidak harus masuk kondisi rileks dulu. Saya paling sering berkomunikasi dengan Part saat sedang mengendarai mobil. Pada saat ini pikiran sadar saya sedang sibuk memperhatikan jalan sehingga tidak menganggu proses komunikasi saya dengan pikiran bawah sadar. Selain itu saya juga menggunakan kesempatan saat meditasi di pagi hari untuk berkomunikasi dengan Part. Saat pikiran tenang, hening, dan rileks, maka saat itu adalah saat yang paling pas dan nyaman untuk berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar atau Part.
Namun jangan salah mengerti ya. Saya tidak setiap hari mencari Part untuk diajak komunikasi. Saya hanya melakukan bila dirasa perlu. Kalau sedikit-sedikit cari Part, sedikit-sedikit cari Part, cari Part kok sedikit… eh.. salah, maksud saya kalau terus-terusan cari Part maka ini namanya kurang kerjaan.