warna-warni surabaya

warna-warni surabaya
semua ceritaku di surabaya
Tampilkan postingan dengan label himpunan mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label himpunan mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Desember 2011

MENGENDALIKAN EMOSI


 Selamat malam semua.
kali ini saya ingin berbagi pengalaman dengan teman-teman semua, dengan tema bagaimana kita mengendalikan emosi kita, hmmmm karena saya rasa akhir-akhir ini saya merasa emosi saya tidak stabil, apakah emosi itu musiman yah, kadang enak kadang tidak enak, atau tergantung pikiran dan perasaan kita kalau sedang banyak maslah kita cepat sekali emosi, atau kalau sedang bergembira kira mudah sekali mengendalikan emosinya, bisa jadi juga sih. Tetapi intinya pengendalian emosi adalah bentuk dari pengendalian diri kita, sebelum karena itu agar kita bisa mengendalikan emosi dengan baik langkah pertama yang harus kita lakukan adalah dengan cara mengetahui diri kita terlebih dahulu, kenapa ? apakah perlu? 

               Jelas sangat perlu dan penting, bagaimana bisa kita ingin mengendalikan sesuatu hal tapi kita tidak mengerti hal tersebut, bisa diibarartkan bermain game. coba semua berpikir bagaimana caranya kita bisa bermain game baru dengan baik kalau kita tidak berusaha membaca buku penduan game itu atau mengerti cara bermain dan alur game tersebut, sulit bukan . Lah sama juga dengan diri kita kita ingin mengendalikan diri kita, kita wajib juga mengerti dan paham tentang siapa diri kita secara menyeluruh tidak hanya sebagian - sebagian saja. nah di sini pasti kebanyakan pasti bingung bagaimana caranya mengenal dan memahami diri kita saya mempunyai pengalaman sedikit tentang itu :

1. Merenung dan merefleksikan diri kita.
2. Bertanya dengan orang sekeliling kita.
3. Banyak-banyak membaca buku tentang pengembangan diri dan mengenal karakter diri.
5. Ikuti seminar-seminar pengembangan diri.
6. Memperbanyak berdiskusi dengan orang lain.
7. Lakukan hal-hal baru atau hal yang menantang agar kita tau kemampuan kita.. 
8. Terbuka untuk perubahan dan kritikan kepada diri kita.

           Itulah beberapa cara untuk mempermudah kita agar bisa mengenal karakter kita dengan baik, dan banyak lagi cara yang bisa dilakukan untuk mengenal jati diri kita dengan baik, setelah tahap itu sudah dilakukan dan kita merasa sudah mengerti walau memang masih kurang sih, tetapi katakanlah cukup, itu bisa kita buat bekal untuk proses pengendalian diri kita untuk mengontrol emosi. dan saya langsung saja membagikan cara-caranya menurut pengalaman saya :


  1.  Tenang dan tenangkan diri kita diam sejenak, releks-kan semua pikiran dan prasaan kita
  2.  cari tempat yang tenang dan kondusif
  3.  Bila temen-temen masih terbawa emosi ,lakukan kegiatan yang bisa membuat anda tenang ( contoh : mendengar-kan musik, melihat foto"lucu dan kenangan" indah, menonton filem kesukaan yang membuat gembira dll.)
  4. Setelah sudah tenang cobalah berpikir jangan kedepankan perasaan kita tapi pikiran kita, sikirkan dulu kata-kata yang membuat anda marah dan emosi. tapi fokus dengan kenapa masalah itu muncul dan bagaimna bisa masalah itu bisa terjadi??
  5.  Setelah kita mencoba berpikir, akar permasalahnya apa kita coba untuk menganalisa dan mencari sulusi, hidari berpikir kita merasa benar, hindari ego kita tapi lebih kita menarik diri dalam zona netral.
  6. Berpikir strategis dan berpikir sistematis yauitu carilah sulusi yang taktis bisa dilakukan dengan meningkatkan kemudahan kinerja, resiko yang rendah dan tingkat keberhasilan yang tinggi untuk menyelesaikan masalah tersebut ,dengan menganalisa positf dan negatif nya. kalau sudah berpikir sistematis lakukan perencanaan secara langkah demi langkah, karena mustahil semua bisa langsung terselesaikan semua ,karena perubahan perlu waktu dan ruang.
  7. Yang terkhir yaitu jangan lupa untuk beribadah dan terus berDOA karena itulah kunci dari keberhasilan langkah-langkah kita.



Mungkin itu saja cara-cara yang saya bisa bagi kepada teman-temen, semoga berguna untuk kita semua, dan saya ada sedikit info tambahan yang saya cari dari tempat lain, seperti berikut ini :


A. Beberapa Cara Untuk Meredam Emosi / Amarah Diri Sendiri by organisasi.org :
1. Rasakan Yang Orang Lain Rasakan
Cobalah bayangkan apabila kita marah kepada orang lain. Nah, sekarang tukar posisi di mana anda menjadi korban yang dimarahi. Bagaimana kira-kira rasanya dimarahi. Kalau kemarahan sifatnya mendidik dan membangun mungkin ada manfaatnya, namun jika marah membabi buta tentu jelas anda akan cengar-cengir sendiri.
2. Tenangkan Hati Di Tempat Yang Nyaman
Jika sedang marah alihkan perhatian anda pada sesuatu yang anda sukai dan lupakan segala yang terjadi. Tempat yang sunyi dan asri seperti taman, pantai, kebun, ruang santai, dan lain sebagainya mungkin tempat yang cocok bagi anda. Jika emosi agak memuncak mingkin rekreasi untuk penyegaran diri sangat dibutuhkan.
3. Mencari Kesibukan Yang Disukai
Untuk melupakan kejadian atau sesuatu yang membuat emosi kemarahan kita memuncak kita butuh sesuatu yang mengalihkan amarah dengan melakukan sesuatu yang menyenangkan dan dapat membuat kita lupa akan masalah yang dihadapi. Contoh seperti mendengarkan musik, main ps2 winning eleven, bermain gitar atau alat musik lainnya, membaca buku, chating, chayang-chayangan dengan kekasih pujaan hati, menulis artikel, nonton film box office, dan lain sebagainya. Hindari perbuatan bodoh seperti merokok, make narkoba, dan lain sebagainya.
4. Curahan Hati / Curhat Pada Orang Lain Yang Bisa Dipercaya
Menceritakan segala sesuatu yang terjadi pada diri kita mungkin dapat sedikit banyak membantu mengurangi beban yang ada di hati. Jangan curhat pada orang yang tidak kita percayai untuk mencegah curhatan pribadi kita disebar kepada orang lain yang tidak kita inginkan. Bercurhatlah pada sahabat, pacar / kekasih, isteri, orang tua, saudara, kakek nenek, paman bibi, dan lain sebagainya.
5. Mencari Penyebab Dan Mencari Solusi
Ketika pikiran anda mulai tenang, cobalah untuk mencari sumber permasalahan dan bagaimana untuk menyelesaikannya dengan cara terbaik. Untuk memudahkan gunakan secarik kertas kosong dan sebatang pulpen untuk menulis daftar masalah yang anda hadapi dan apa saja kira-kira jalan keluar atau solusi masalah tersebut. Pilih jalan keluar terbaik dalam menyelesaikan setiap masalah yang ada. Mungkin itu semua akan secara signifikan mengurangi beban pikiran anda.
6. Ingin Menjadi Orang Baik
Orang baik yang sering anda lihat di layar televisi biasanya adalah orang yang kalau marah tetap tenang, langsung ke pokok permsalahan, tidak bermaksud menyakiti orang lain dan selalu mengusahakan jalan terbaik. Pasti anda ingin dipandang orang sebagai orang yang baik. Kalau ingin jadi penjahat, ya terserah anda.
7. Cuek Dan Melupakan Masalah Yang Ada
Ketika rasa marah menyelimuti diri dan kita sadar sedang diliputi amarah maka bersikaplah masa bodoh dengan kemarahan anda. Ubah rasa marah menjadi sesuatu yang tidak penting. Misalnya dalam hati berkata : ya ampun.... sama yang kayak begini aja kok bisa marah, nggak penting banget sich...
8. Berpikir Rasional Sebelum Bertindak
Sebelum marah kepada orang lain cobalah anda memikirkan dulu apakah dengan masalah tersebut anda layak marah pada suatu tingkat kemarahan. Terkadang ada orang yang karena diliatin sama orang lain jadi marah dan langsung menegur dengan kasar mengajak ribut / berantem. Masalah sepele jangan dibesar-besarkan dan masalah yang besar jangan disepelekan.
9. Diversifikasi Tujuan, Cita-Cita Dan Impian Hidup
Semakin banyak cita-cita dan impian hidup anda maka semakin banyak hal yang perlu anda raih dan kejar mulai saat ini. Tetapkan impian dan angan hidup anda setinggi mungkin namun dapat dicapai apabila dilakukan dengan serius dan kerja keras. Hal tersebut akan membuat hal-hal sepele tidak akan menjadi penting karena anda terlalu sibuk dengan rajutan benang masa depan anda. Mengikuti nafsu marah berarti membuang-buang waktu anda yang berharga.
10. Kendalikan Emosi Dan Jangan Mau Diperbudak Amarah
Orang yang mudah marah dan cukup membuat orang di sekitarnya tidak nyaman sudah barang tentu sangat tidak baik. Kehidupan sosial orang tersebut akan buruk. Ikrarkan dalam diri untuk tidak mudah marah. Santai saja dan cuek terhadap sesuatu yang tidak penting. Tujuan hidup anda adalah yang paling penting. Anggap kemarahan yang tidak terkendali adalah musuh besar anda dan jika perlu mintalah bantuan orang lain untuk mengatasinya.
B. Cara Untuk Meredam Emosi / Amarah Orang Lain by organisasi.org :
Untuk meredam amarah orang lain sebaiknya kita tidak ikut emosi ketika menghadapi orang yang sedang dilanda amarah agar masalah tidak menjadi semakin rumit. Cukup dengarkan apa yang ingin ia sampaikan dan jangan banyak merespon. Tenang dan jangan banyak hiraukan dan dimasukkan dalam hati apa pun yang orang marah katakan. Cukup ambil intinya dan buang sisanya agar kita tidak ikut emosi atau menambah beban pikiran kita.
Jika marahnya karena sesuatu yang kita perbuat maka kalau bukan kesalahan kita jelaskanlah dengan baik, tapi kalau karena kesalahan kita minta maaf saja dan selesaikanlah dengan baik penuh ketenangan batin dan kesabaran dalam mengatasi semua kemarahannya. Lawan api dengan air, jangan lawan api dengan api. Semoga berhasil menjinakkan emosi rasa marah anda.

Minggu, 27 November 2011

GAYA KERJA


GAYA KERJA
Pengertian :
Gaya Kerja adalah kesatuan dari berbagai cara/tindakan yang didasari oleh SINA seseorang dan ditampilkan disaat ia melakukan hubungan kerja dengan orang lain.
  Gaya-kerja berarti :
Gaya-kerja merupakan kesatuan   kumpulan tingkah laku yang berpola.
*      Tingkah laku yang bukan bagian dari interaksi dengan orang lain, ini bukan Gaya-kerja.
*      Beberapa tingkah laku yang muncul dalam situasi kerja, tetapi tidak didasari oleh sistem nilai dan asumsi, ini bukan Gaya-kerja.
*      Gaya-kerja bukanlah tingkah laku itu sendiri, melainkan berdasarkan persamaan yang muncul dalam tingkah laku konkrit.
*      Gaya kerja hanyalah sebagian dari kepribadian seseorang. Gaya-kerja bukan temperamen.
MACAM-MACAM GAYA KERJA
v   Gaya Kerja Komandan
v   Gaya Kerja Pelayan
v   Gaya Kerja Bohemian
v   Gaya Kerja Birokrat
v   Gaya Kerja Manajer
ELEMEN GAYA KERJA :
1.      Mengkomunikasikan gagasan
2.      Mengkaji gagasan pihak lain
3.      Menangani Keluhan
4.      Menolak Permintaan
5.      Menyampaikan Kritik
6.      Menyelesaikan Konflik
7.      Mengambil Keputusan

Mengkomunikasikan Gagasan :
Tindakan untuk memberi penjelasan pada pihak lawan mengenai hal yang merupakan keyakinan dan harapan pihak pertama, yang berupa tuntutan, permintaan, saran, informasi atau bisa juga perasaan-perasaan
Mengkaji Gagasan Pihak Lain :
Tindakan yang dilakukan (pihak pertama) untuk memahami jalan pikiran pihak-pihak kedua, baik yang meliputi kepentingan yang ingin mereka peroleh maupun saran yang mereka berikan. Tindakan ini bisa dilakukan dengan mengajukan pertanyaan atau dengan mengamati tingkah laku pihak kedua.
Menolak Permintaan :
Dilakukan bila hal-hal yang diminta oleh pihak kedua tidak mungkin dipenuhi. Penolakan dilakukan secara terang-terangan atau diam-diam.
Menegur Kesalahan dan Menyampaikan Kritik :
Tindakan pihak pertama dalam rangka memperbaiki/mengoreksi tindakan pihak kedua yang dinilai tidak sesuai dengan tata cara, nilai, atau kesepakatan yang berlaku.
Menangani Keluhan :
Tindakan penyelesaian masalah yang dilakukan pihak pertama sehubungan dengan keluhan pihak kedua yang menganggap bahwa kenyataan yang ada tidak sesuai dengan harapannya.
Menangani Konflik yang terjadi :
Tindakan pihak pertama untuk menyelesaikan kondisi pertentangan yang disebabkan adanya kepentingan yang saling berbenturan.
Mengambil Keputusan :
Pengambilan keputusan dilakukan bila dalam suatu kerja sama terdapat konflik yang tidak terselesaikan.
GAYA KERJA KOMANDAN
•       Merasa benar sendiri.
•       Sebagai pengambil keputusan.
•       Tidak ingin dibantu atau dipengaruhi orang lain.
•       Sebagai atasan : ia cenderung mendikte bawahannya.
•       Sebagai bawahan : ia membantah atasannya.
•       Sulit percaya bahwa pihak lain akan berusaha untuk memperhatikan pihaknya.
•       Giat menyampaikan kepentingannya.
•       Menganggap kepentingannya lebih utama.
•         Tidak ragu-ragu menyatakan keberatan atau celaan terhadap jalan pikiran orang lain.
GAYA KERJA PELAYAN
•       Keinginan yang kuat untuk disenangi orang lain.
•       Selalu menjaga perasaan orang lain.
•       Mendahulukan kepentingan orang lain.
•       Mudah mengalah pada pendapat orang lain.
•       Sebagai atasan : lebih sering membujuk, dan sulit mengambil keputusan.
•       Giat mempelajari kepentingan orang lain.
•       Menahan diri untuk menyampaikan keberatan.
•       Berhati-hati dalam menyampaikan  kepentingannya.
•       Dalam mengambil keputusan, lebih  mementingkan unsur hubungan baik daripada  kualitas keputusan.
GAYA KERJA BOHEMIAN
•       Tidak mau merepotkan dan direpotkan   orang lain.
•       Segan bekerja sama.
•       Sikap masa bodoh dengan dunia luar.
•       Tidak merasa terikat dengan suatu keputusan.
•       Tidak terlalu mendetail dalam mempelajari kepentingan orang lain.
•       Menyilahkan pihak kedua membuat keputusan tanpa merugikan pribadinya.
•       Tidak menegur kesalahan orang lain yang tidak langsung merugikan kepentingan pribadinya, walaupun jelas-jelas merugikan kelompoknya.

        GAYA KERJA BIROKRAT
•       Orang yang sangat teliti memperhatikan prosedur dan aturan yang berlaku.
•       Dalam berhubungan dengan orang lain  adalah semua pihak bekerja sama untuk kepentingan pihak lain yang lebih tinggi.
•       Tidak menyalahgunakan wewenang dalam mengambil keputusan akhir.
•       Bila terjadi konflik, menerima secara objektif pihak yang dimenangkan oleh peraturan yang berlaku.
GAYA KERJA BIROKRAT
•       Orang yang sangat teliti memperhatikan prosedur dan aturan yang berlaku.
•       Dalam berhubungan dengan orang lain  adalah semua pihak bekerja sama untuk kepentingan pihak lain yang lebih tinggi.
•       Tidak menyalahgunakan wewenang dalam mengambil keputusan akhir.
•       Bila terjadi konflik, menerima secara objektif pihak yang dimenangkan oleh peraturan yang berlaku.
GAYA KERJA MANAJER
•         Berpegang teguh pada slogan :
   “kerjasama yang baik adalah kerja   sama yang memuaskan semua pihak“.
•         Dalam mengkaji gagasan orang lain, mereka mengajukan pertanyaan untuk memperoleh penjelasan yang lebih  mendalam.
•         Menganalisa gagasan, dan mengajukan hasilnya dalam perundingan.
•         Dalam menyelesaikan konflik, mereka mempelajari pangkal masalah dan   memahami kepentingan masing-masing pihak.


Senin, 24 Oktober 2011

"BELAJAR MENGENAL POTENSI DIRI"


Banyak cara untuk bisa mengenal dan mengerti bakat diri kita, yang kebanyakan orang sulit untuk bisa menemukan bahkan menjawabnya, termasuk diri saya, disini saya ingin bercerita dan membagi tips untuk teman-teman mengenal bakat diri dengan cara cara yang sederhana,
Pada awalnya saja merasa bingung untuk memulai mempelajari pribadi saya dengan mengetahui bakat dan kelebihan saya, sulit rasanya saat kita tidak bisa sadar dan jujur terhadap diri sendiri , serasa kita sudah berusaha berpikir tetapi sebenarnya kita masih menggunakan perasaankita untuk menganalisanya. jadi seolah-olah kita tidak menemukan jawaban yang tepat tentang apa yang kita cari. Dalam Perjalanan saya , menemukan bakat diri itu sebenarnya yang paling efektif dengan memutar memori-memori terdahulu dari kecil sampai sekarang, apa yang kita senangi dan apa yang sudah kita pernah capai dari presatasi atau keahlian diri. Berpikir dari hal sederhana jangan menutup diri dengan keterbatas kita karena itu akan mempersulit membuka kelebihan kita yang sebenarnya. Praktek berproses langsung itu lebih akan memperjelas potensi diri kita dengan memfokuskan dengan apa hal yang kita suka dan berpotensi mengembangkan diri kita itu kan memberikan jawaban yang real , disini saya juga mencari refrensi info tetang bagaiman kita bisa mengerti dan tau atas bakat terpendam kita ,
APA Bakat Anda? (Bagian I)
Selasa, 12 Mei 2009 | 11:26 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Apakah bakat Anda muncul sejak lahir atau sengaja Anda ciptakan lewat latihan-latihan tertentu? Membincangkan asal-muasal bakat memang menarik dan seolah tak berujung.
Saat lahir, kita memiliki 100 miliar neuron. Tiga bulan atau 60 hari menjelang kelahiran, neuron yang kita miliki itu sudah berkomunikasi satu sama lain. Mereka bahkan membentuk jalinan yang dinamakan dengan axon. Lalu, saat jalinan terbentuk, sebuah sinapsis pun otomatis terbentuk.
Di usia tiga tahun, setiap 100 miliar neuron kita itu telah menciptakan jaringan sinapsis dengan neuron lainnya. Koneksi antarneuron inilah yang menjadi awal mula munculnya bakat. Tandanya, anak terlihat aktif luar biasa.
Ya, tanda tersebut kerap mudah kita cermati pada dua periode usia kita, yaitu ketika kita menginjak usia balita dan saat kita berusia belasan atau duduk di kelas 1 atau 2 SMA. Di masing-masing periode itu, kita (anak) dikenal begitu aktif, bahkan saking aktifnya, tak sadar kita seringkali disebut “nakal” tak keruan.
Tentu saja. Karena memang, banyak hal ingin kita ketahui, mencoba, dan lakukan. Kita pasti marah atau memberontak ketika kemauan kita tersebut dihalangi.
Nah, benarkah itu bakat? Rasanya, terlalu cepat kita mengambil kesimpulan bahwa itu merupakan bakat. Mungkin, lebih tepat, hal itu akan menjadi bakat kita atau tidak, karena akan sangat tergantung pada minat kita kelak.
Hal itu membuktikan bahwa setiap jalinan sinapsis akan terus mendorong diri kita untuk tidak henti melakukan apa pun yang kita mau terkait minat kita. Yang terjadi, kita akan kebingungan memilih ini atau itu, mencoba melakukan ini atau itu, dan kita tidak terfokus untuk mematangkan sebuah nilai kompetensi tertentu.
Untuk itulah, di usia 16 tahun, hukum alam memutus separuh dari jejaring sinapsis tersebut. Dan tidak ada manusia bisa membentuknya kembali utuh seperti semula.
Namun, sejak terputusnya jaringan sinapsis itu, bakat kita malah justru benar-benar mulai terasah. Karena hal itu memberi kita ruang lebih luas untuk fokus dan benar-benar mengeksploitasi beberapa sinapsis tertentu.
Latihan tak selalu sempurna
“Ya, latihan menjadikannya (bakat) sempurna. Saat hal itu datang sebagai bagian dari hidup Anda, Anda harus mencintainya. Jika tidak, Anda tidak akan dapat bekerja dengan baik dan meraih yang terbaik”.
Demikian hal itu dikatakan oleh Dr Anders Ericsson dalam buku Cambridge Handbook of Expertise and Expert Performance. Di situ Anders memandang orang-orang berpengalaman, baik itu seorang pebalet, pemain basket, atau pembuat program komputer, hampir selalu “dibuat” atau “dilatih”, dan bukan dilahirkan.
Pendapat Anders tersebut diamini oleh hasil penelitian Marcus Buckingham dan Donald O Clifton’s. Penelitian berdasarkan riset selama 25 tahun dan berbiaya sangat besar itu dilakukan terhadap dua juta pemilik karier dari 101 perusahaan di 63 negara. Hasilnya, meskipun terdapat aspek bakat yang dibawa sejak lahir, ternyata kita punya kekuatan lain untuk membentuk bakat apa pun yang kita inginkan.
Hanya saja, hasil penelitian itu masih memberikan catatan penting. Bahwa semua hal itu harus dilakukan sejak balita hingga usia belasan tahun. Ya, karena seperti kita ketahui, sampai di situlah batas otak kita dalam membuat jalinan sinapsis antarneuron.
Kiranya, lebih dari 20 tahun sudah, Anda harus menemukan dan menggali bakat Anda. Kini, mustahil Anda bisa menyuruh neuron di otak Anda untuk membentuk sinapsis baru. Hanya satu yang bisa Anda lakukan adalah Anda membentuk jalinan sinapsis di sekeliling sinapsis utama yang sudah terbentuk sebelumnya sejak Anda lahir.
Tidak, hal itu tidak akan membuat diri Anda merasa terbatas! Anda hanya diminta untuk melatih segala hal yang Anda sukai. Jika Anda suka, itu pertanda bakat Anda dan menjadi investasi bagi diri Anda sendiri di masa depan.
Dan jangan khawatir, Anda bisa membaca tanda-tanda (sign) bahwa bakat Anda telah hadir dalam diri Anda, yaitu:
- Nyamankah Anda saat menjalaninya? Hingga dalam sanubari Anda pun terngiang, “Rasanya ini cocok sekali buat saya.”
- Anda yakin, di hati selalu muncul rasa rindu bisa melakukannya? Bahkan sebelum menjalaninya, senantiasa timbul rasa rindu yang tinggi hingga lekas-lekas ingin melakukannya.
- Seberapa besar rasa penasaran Anda? Seberapa kuat keinginan Anda untuk belajar mendalami hal ini? Seberapa fokus dan mudah berkonsentrasinya Anda terhadap hal ini?
- Puaskah Anda usai menjalaninya? Bukan puas pada hasil, tetapi batin, apakah Anda memang terpuaskan?
Kiranya, perlu Anda cermati dan buktikan bahwa beberapa hal di atas memang tanda-tanda hadirnya bakat Anda. Tetapi sebaliknya, tidak perlu kecewa apalagi sedih jika tidak melihat tanda-tanda itu hadir di diri Anda.
Ya, sekuat apa pun Anda melatih dan menciptakan agar tanda-tanda itu hadir pada diri Anda, dalam perjalanan waktu hal itu malah akan membuat Anda tidak merasa nikmat melakoninya. Nyatalah bahwa latihan tidak berlaku dan mampu tampak sempurna pada segala bidang.
Lalu, apa yang kini harus Anda lakukan?
Tidak ada, kecuali Anda hanya harus menjadi diri Anda sendiri. Ingat, Anda tidak bisa menjadi apa yang Anda inginkan, tetapi Anda bisa menjadi diri yang melebihi siapa diri Anda saat ini! (Berbagai sumber)
Dari Mana Bakat Anda? (Bagian II – Habis)
Selasa, 12 Mei 2009 | 19:58 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Ditanya akan memilih jurusan apa saat kuliah nanti, Santi mengaku bingung menentukan pilihan, apalagi ketika pilihan tersebut dikaitkan dengan bakat dan minatnya. “Jangankan memilih sesuai minat dan bakat, saya sendiri pun belum tahu minat dan bakat saya,” katanya.
Santi (18), sebutlah namanya begitu, mengaku dirinya memang bukan siswa pandai di kelas. Namun, ia juga bukan nomor buncit dalam urusan nilai pelajaran. Hanya, dia merasa tidak “ngeh” soal minat atau bakatnya pada hal-hal tertentu.
Memang, kerap orang mengatakan minat dan bakat adalah teropong bagi jalan kehidupan di masa depan. Membayangkannya pun terasa menyenangkan karena dengan keduanya kita bisa menjadi siapa pun yang diinginkan asalkan mau kerja keras dan pantang menyerah.
Kenyataannya, pemahaman itu justru sebaliknya. Hal itu sering kali menimbulkan masalah ketika kita beranjak dewasa dan tiba saatnya memilih bidang pendidikan dan karier. Pemahaman itu sedikit banyak menciptakan ilusi akan beragam pilihan bidang pendidikan dan karier yang menjanjikan masa depan. Dan lagi, apakah semua itu pilihan yang benar-benar kita inginkan?
Selain itu, pemahaman tersebut juga membentuk imajinasi tersendiri bahwa kita bisa menjadi sosok terbaik di bidang apa pun yang kita minati. Duh, apa betul begitu? Apakah bisa, prestasi seorang Chris John yang dielu-elukan berkat tinjunya di atas ring itu akan bersinar oleh puja-puji pula di lapangan basket?
Nyatanya tidak. Adalah sebuah fakta bahwa kita memang tidak bisa menjadi siapa pun yang kita mau. Kita lupa, selain minat, ada faktor lain yang sangat menentukan langkah kita ke depan. Ya, bakat dan latihan khusus untuk mempertajamnya.
Temukan, Bukan CiptakanKenyataan, tidak semua orang bisa menjadi seorang Chris John, Bill Gates, atau David Beckham. Mereka bertiga punya bakat alami dan telah menjadikan bakat itu sebagai investasi yang dilatihnya sejak lama. Dan kita tidak bisa membuat dan mengubahnya “semau gue”.
Sekarang, lihat ke sekeliling Anda! Mungkin, ada orang yang suka duduk berlama-lama di depan laptop? Bahkan saking lamanya Anda lupa, kapan orang itu makan dan minum?
Atau, Anda pun mungkin bingung, kenapa rekan dekat Anda lebih memilih les guru bahasa Inggris ketimbang Anda yang lebih senang naik gunung atau bermain band di saat libur? Banyak, dan banyak lagi contoh yang kita pun tidak tahu keuntungan mereka melakukan semua itu.
Anda pun sebetulnya bisa begitu. Meniru untuk kreatif berekspresi seperti mereka, berhasil lalu merasa puas. Namun kelak yang terjadi, Anda tidak akan pernah merasa nyaman melakukan hal-hal di luar kerangka bakat Anda tersebut.
Ya, Anda tidak akan bisa menjadi mahasiswa arkeologi dan menjadi arkeolog mumpuni karena Anda sebenarnya sama sekali tidak hobi “keluyuran”. Usaha Anda hancur terus dan kapok untuk terjun ke bidang bisnis sehingga Anda memilih kembali menjadi karyawan. Tidak salah, Anda memang tidak punya hobi itu. Anda tidak bakat!
Mutlak, Anda harus paham apa yang disebut dengan bawaan atau nature (hormonal atau DNA) dan latihan atau nurture. Sejatinya, yang harus Anda lakukan ialah membentuk diri Anda tak ubahnya dengan bawaan Anda sejak lahir. Anda jangan hanya menginginkan suatu bidang pendidikan yang bisa membuahkan karir tertentu dengan gaji selangit.
Jika itu Anda lakukan, berarti Anda sudah “bunuh diri”. Pasalnya, kerangka neurologis Anda yang telah membentuk bakat tersebut akan menolak. Alhasil, Anda tidak dapat menikmatinya. Kecuali, Anda memang berniat keras untuk menambal “kekurangan” tersebut dengan nurture, dengan latihan-latihan khusus.
Semakin cepat Anda sadar untuk melihat diri Anda dan menemukan potensi di dalamnya, semakin beruntung pula Anda. Pilihan minat dan bakat Anda dengan sendirinya akan lebih mudah Anda tentukan.
Anda mulai bisa memilih peran Anda, bentuk pendidikan yang cocok untuk menambal peran tersebut, serta produktifitas yang akan Anda hasilkan kelak di dunia kerja. Cara memulainya, simak beberapa hal di bawah ini:
Maksimalkan kekuatan Anda, tuntaskan pula kelemahan Anda!
Jika Anda termasuk orang yang sulit berdiplomasi, dapatkah Anda terjun bebas ke dalam bidang ini karena Anda menyukainya? Kalau Anda tergolong paling lambat mengambil keputusan, dapatkah Anda melatihnya sekeras hati? Jika Anda bukan seorang konseptor, siapkah Anda menjadi seorang “ahli lapangan” agar kekurangan Anda tersebut lenyap ditelan bumi!
Tidak cukup latihan keras, Anda butuh bakat alami!
Memang, antara pengetahuan, keterampilan, serta materi bisa Anda dapatkan melalui belajar dan latihan. Namun, hal sesungguhnya yang penting adalah bakat sebagai bawaan Anda sejak lahir. Anda akan mampu melakukan segala hal berkat keterampilan, sementara kuantitas dan kualitas Anda melakukannya adalah berkat dorongan bakat alami Anda.
Siapkan sistem pendukung hindari aktivitas tak terarah!
Sistem pendukung itu bisa saja hanya berupa pesan singkat di ponsel atau sekadar kertas-kertas yang Anda tempel di meja belajar, bahkan pintu kamar!
Sadar dan amati reaksi spontan Anda saat menyikapi hal atau kejadian
Nah, bagaimana Anda akan mengambil peran atas kejadian itu? Anda cenderung memegang kendali, membuat analisa hal itu secara seksama, atau hanya berusaha mencari sisi-sisi lain ternyata tidak penting dari kejadian tersebut?
Amati besarnya niat dan keinginan Anda melakukan aktivitas tertentu
Dari situ, yakinkan bahwa sebuah aktivitas telah membuat Anda rindu untuk berulang melakukannya. Rasa rindu itu akan senantiasa timbul hingga Anda lekas-lekas melakoninya.
Secepat apa Anda belajar dan menguasai sebuah bidang tertentu?
Secepat kilat atau selambat becak? Sadari hal itu dan bandingkan upaya Anda dengan hasil yang didapatkan oleh rekan-rekan Anda.
Sepuas apa perasaan Anda seusai melakukannya?
Entah, karena yang pasti, saat melakukannya Anda nyaman, senang, dan membuat Anda sejenak tenggelam di dalam keasyikan melakukannya.
Monitor perilaku dan perasaan Anda ketika menjalaninya
Dari sini Anda akan mengevaluasi apa yang sudah Anda lakukan. Amati dan berikan analisis pada diri Anda. Benarkah ini pilihan Anda?
Anda tidak bisa menikmati? Anda lambat dan merasa tidak berkembang?
Tinggalkan sekarang juga! Cari peran lain, jangan habiskan uang dan waktu Anda hanya untuk mengatasi kelemahan Anda, melainkan juga pertajam bakat dan kekuatan alami dalam diri Anda.
Ingat, banyak orang muda yang sukses. Yakinlah bahwa mereka memang pribadi-pribadi yang menemukan bakatnya sejak dini dan mau belatih sebagai investasi di masa depannya.
LTF
Hati-hati Tentukan Potensi Bakat Anak!

KOMPAS.com – Kalangan orangtua diingatkan untuk lebih berhati-hati dalam membantu menentukan pilihan program studi di perguruan tinggi pada anak-anak yang lulus SLTA, agar tidak sampai salah hingga kemudian terjadi penyesalan.
Hal itu mengingat pilihan terbaik program studi adalah yang sesuai dengan potensi bakat anak, namun banyak terjadi salah pada minat anak-anak atau bahkan keinginan orangtua, yang sifatnya sesaat dan berubah-ubah, demikian terungkap dari seminar psikologi dan pendidikan di Denpasar, Minggu.
Pada acara bertema Mencetak Anak Juara Dari Rumah yang pesertanya melimpah sampai sekitar 1.000 orang sehingga harus dibagi dalam dua sesi itu, menampilkan pembicara, Instruktur Smart Primagama, Drs H Supriyadi dan psikolog dari Yogyakarta, Nurmey Nuruly, SPsi.
Supriyadi mengingatkan, pentingnya pihak sekolah maupun orangtua/walimurid
membantu menemukan potensi bakat pada anak-anak melalui berbagai metode, misalnya dengan mengajukan berbagai pertanyaan guna mengetahui mereka siap dan mudah atau kesulitan dalam menjawabnya.
“Jika beberapa pertanyaan dari salah satu bidang studi dapat dengan mudah dijawab, maka bidang studi itulah salah satu indikasi potensi bakatnya. Tetapi akan lebih akurat apabila melalui cara ilmiah seperti tes psikologi, metode sidik jari dan lainnya,” katanya.
Sementara Rully menekankan pentingnya membangun suasana senang pada anak-anak, agar mampu dengan mudah mempelajari hal-hal yang sesuai dengan potensi maupun minatnya.
“Kenapa anak-anak suka sulit disuruh belajar, karena mereka berada dalam suasana yang tidak mendukung. Coba mereka senang, tidak disuruh pun akan rajin belajar,” ucapnya seraya mengingatkan bahwa anak-anak bukan “orangtua kecil”.
Penciptaan suasana senang, gembira, baik di rumah maupun di sekolah, akan mampu menggali potensi bakat yang bersangkutan, sehingga dapat memudahkan proses penjurusan di SLTA maupun pemilihan program studi ke jenjang perguruan tinggi.
Ia mengingatkan, bahwa selama ini banyak terjadi anak-anak menempuh studi yang sebenarnya tidak sesuai dengan potensi bakatnya, hanya karena menuruti keinginan orangtua atau minat sesaat yang didasarkan ajakan teman atau bahkan sekedar gengsi.
“Janganlah kita memaksakan anak-anak menempuh studi pada bidang yang tidak sesuai potensi, apalagi tidak diminati. Hal itu sama saja kita ’memenjarakan’ mereka selama masa studi. Tetapi kalau belajar sesuai potensi bakat, maka mereka akan enjoy dan hasilnya bisa memuaskan,” tambahnya.
ABD
Sumber : Antara
Keluarkan Potensi Anda
Selasa, 20 Januari 2009 | 09:44 WIB
Sudah mengetahui bakat yang dimiliki? Mulailah Anda mengembangkannya. Namun jika belum tahu apa bakat yang dimiliki, belum terlambat untuk mengetahuinya. Anda hanya butuh empat kunci berikut untuk mengeluarkan potesi Anda yang sesungguhnya.
1. Keahlian
Pernahkah Anda mempelajari sesuatu yang benar-benar baru dan ternyata Anda dapat menguasainya dengan mudah? Atau mengerjakan sesuatu lebih cepat dari rekan lain? Bisa jadi, itulah bakat yang sedang memanggil, menunggu Anda melepaskan dan mengembangkannya.
Jika Anda dengan mudah bisa menyelesaikan sebuah perhitungan saat orang lain menyumpahi kalkulator, itu artinya bakat Anda sebagai seorang akuntan atau banker sedang berusaha muncul dan menyapa Anda. Nah, pikirkanlah hal-hal yang begitu mudah bagi Anda tetapi tidak bagi teman-teman. Kemudian, perhatikan bakat apa yang tengah bekerja pada diri Anda.
2. Ketertarikan
Cara lain menemukan bakat adalah dengan memikirkan hal-hal yang begitu Anda inginkan. Seringkali hal-hal yang menarik perhatian selalu berkaitan dengan kemampuan alami atau bakat. lni merupakan suatu pola konsisten dalam hidup dan bukan sekadar cara menghabiskan waktu alias hobi semata.
Nah, coba pikirkan apa yang paling Anda ingin lakukan seharian? Menonton film? Melatih hewan? Menata barang? Memainkan alat musik? Atau membaca buku? Sesuatu itu tidak harus yang menjadi ambisi Anda, meski ambisi merupakan petunjuk kuat adanya bakat yang tengah bekerja.
Jika Anda seorang pembaca yang tekun atau rajin menulis di blog, bisa jadi bakat tersembunyi Anda adalah menulis. Atau bisa saja ketertarikan pada buku membawa Anda pada karier kepustakaan, penerbitan, dan lain-lain.
3. Kepuasan
Apa yang membuat Anda merasakan kebahagiaan dan kepuasan dalam bekerja? Pekerjaan apa yang membuat Anda begitu hanyut dan merasa tak ingin berhenti saat mengerjakannya? Bagi para atlet, perasaan hanyut sering terjadi ketika mereka berolahraga. Sementara bagi para ahli komputer, perasaan hanyut terjadi ketika mereka menghadapi piranti lunak.
Dalam keadaan hanyut, kita memang menjadi sangat terfokus pada kesempatan untuk menggunakan bakat. Alhasil, pola gelombang otak kita saat itu begitu mirip dengan pola gelombang otak ketika kita tertidur lelap. Nah, sekarang apa yang membuat Anda terhanyut? Jika Anda belum juga menemukan, pikirkan suatu kegiatan yang membuat Anda terlibat sepenuhnya. Mungkin bakat Anda ada di sana.
4. Kebiasaan
Pernahkah Anda dipuji karena kemampuan atau sikap Anda? Misalnya, orang menilai Anda sebagai karyawan yang sangat teratur atau ide pemasaran Anda hebat, atau Anda pendengar yang baik, dan lain sebagainya. Lewat komentar orang-orang di sekitar, Anda juga bisa mengetahui kemampuan alami Anda.
Ketrampilan alami memang bisa muncul dalam berbagai cara. Namun, kadang kita menganggapnya biasa saja karena ketrampilan itu sudah sangat melekat sehingga hampir tak disadari kehadirannya.
Lalu, bagaimana mengenali bakat itu? Coba cermati apa yang membuat orang tertarik pada Anda, mengenali Anda atau terfokus pada Anda? Apakah Anda menjadi tempat curahan hati teman-teman? Atau mereka selalu meminta pendapat Anda soal pakaian? Nah, di sanalah bakat Anda tersimpan. Anda hanya perlu mencari kesempatan untuk mengembangkannya. (Chic/Erma Dwi Kusumastuti)
Ciri-Ciri Anak Berbakat
Selasa, 7 Oktober 2008 | 11:53 WIB
Dalam bukunya, Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah, Prof. Utami Munandar menuliskan indikator keberbakatan sebagai berikut:
* Ciri-ciri Intelektual/Belajar:
Mudah menangkap pelajaran, ingatan baik, perbendaharaan kata luas, penalaran tajam (berpikir logis-kritis, memahami hubungan sebab-akibat), daya konsentrasi baik (perhatian tak mudah teralihkan), menguasai banyak bahan tentang berbagai topik, senang dan sering membaca, ungkapan diri lancar dan jelas, pengamat yang cermat, senang mempelajari kamus maupun peta dan ensiklopedi.
Cepat memecahkan soal, cepat menemukan kekeliruan atau kesalahan, cepat menemukan asas dalam suatu uraian, mampu membaca pada usia lebih muda, daya abstraksi tinggi, selalu sibuk menangani berbagai hal.
* Ciri-ciri Kreativitas:
Dorongan ingin tahunya besar, sering mengajukan pertanyaan yang baik, memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah, bebas dalam menyatakan pendapat, mempunyai rasa keindahan, menonjol dalam salah satu bidang seni, mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya serta tak mudah terpengaruh orang lain, rasa humor tinggi, daya imajinasi kuat, keaslian (orisinalitas) tinggi (tampak dalam ungkapan gagasan, karangan, dan sebagainya.
Dalam pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinal yang jarang diperlihatkan anak-anak lain), dapat bekerja sendiri, senang mencoba hal-hal baru, kemampuan mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi).
* Ciri-ciri Motivasi:
Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu lama, tak berhenti sebelum selesai), ulet menghadapi kesulitan (tak lekas putus asa), tak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi, ingin mendalami bahan/bidang pengetahuan yang diberikan, selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin (tak cepat puas dengan prestasinya), menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah “orang dewasa” (misalnya terhadap pembangunan, korupsi, keadilan, dan sebagainya).
Senang dan rajin belajar serta penuh semangat dan cepat bosan dengan tugas-tugas rutin, dapat mempertahankan pendapat-pendapatnya (jika sudah yakin akan sesuatu, tak mudah melepaskan hal yang diyakini itu), mengejar tujuan-tujuan jangka panjang (dapat menunda pemuasan kebutuhan sesaat yang ingin dicapai kemudian), senang mencari dan memecahkan soal-soal.
itu semua info yang bisa membantu kita semua mengenal potensi diri kita dan semua ini akan percuma saat kita tidak ingin mencobanya dalam diri dan fokus mengimplementasikan semua potensi diri yang kita punyai.
salam perubahan.